Showing posts with label garut. Show all posts
Showing posts with label garut. Show all posts

Sunday, 6 August 2017

In The Name of Edelweiss

Setelah gagal menyapa bunga edelweiss di Gunung Gede pada Desember 2016 lalu, kesempatan datang lagi di Gunung Papandayan. Aku pergi bertiga dengan teman kantorku namanya Aldo, dan Ka Ica, teman SMA-nya Aldo. Sebelum kuceritakan perjalanan kami bertiga, aku ingin ucapkan banyak banyak terima kasih sama dua anak Minang yang kusebut barusan. Segala salah dan ketololanku mohon dimaafkan yah kakak-kakak ^_^

***

Gunung Papandayan terletak di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Elevasi tertinggi yang tercatat adalah 2622 meter di atas permukaan laut. Pertimbangan kami untuk mendaki gunung ini adalah karena dekat dengan kota domisili (Jakarta), aku pribadi pun ingin banget banget banget ketemu bunga edelweiss. Kabarnya di sana ada suatu padang namanya Tegal Alun yang ditumbuhiiiiii edelweisssssssssss semua. Well, aku sebetulnya nggak ada alasan khusus kenapa ingin ketemu edelweiss. Penasaran aja, tapi juga nggak begitu sih, karena sudah kebayang di internet seperti apa wujudnya. Hanya saja berasa hutang aja sama diri sendiri kalau belum mendekatinya langsung.

Perjalanan kami dimulai dari Kuningan, Jakarta Selatan, pukul 20.10. Kami menuju Kampung Rambutan untuk mencari bus yang ke Garut. Kami masuk bus sekitar pukul 22.00, tapi itu bus baru jalan pukul 23.30an.  Sampe kering nunggunya! Ongkos bus per orang Rp52.000,00. 

Satu bus dengan kami banyak juga yang mau naik gunung, dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang ke Guntur dan ada juga yang ke Cikuray. Kami sampai di Terminal Guntur di Garut pukul 04.30 WIB. Langit yang masih gelap menyambut kami dengan gerimis dingin. 

Untuk mencapai Taman Wisata Alam Gunung Papandayan kita mesti naik angkot arah Cisurupan dari terminal Guntur. Ini angkot nunggu kuota penuh dulu baru berangkat, muatnya sekitar 14 orangan, per orang saat itu kena biaya Rp25.000,00. Kemarin aku juga ditarik lagi Rp5000,00 untuk ongkos naikin barang ke atas angkot. Lama perjalanan satu jam saja~~~ 
Dari pertigaan Cisurupan kami naik bak pick up untuk mencapai gerbang Papandayan bersama pendaki lain, per orang tarifnya Rp20.000,00. Sebetulnya angkot yang membawa kita dari terminal Guntur bisa saja dicarter sampai gerbang Papandayan. Bayarnya pun sama saja, nambah Rp20.000,00.
Perjalanan dari Cisurupan ke gerbang Papandayan berkisar 30 menit. Kami nggak banyak melihat pemandangan dari atas mobil pick up selama perjalanan karena masih gerimis, jadi semua penumpang bersama berlindung dibawah terpal yang bisa digulung-digelar hihi rasanya kaya kambing deh (-_-"). 
Masih di awal 
 Ongkos masuk TWA Papandayan per jiwa yang hidup Rp30.000,00. Itu belum termasuk dengan ongkos nge-camp, nambah Rp35.000,00 again! 

"Mahal amat, Git?"
"Iye be'eng!"

Setelah bersiap dengan jas hujan karena masih saja gerimis, perjalanan kami dimulai pukul 09.00. Track dimulai dengan jalan aspal, lalu berbatu kuning-kuning gitu (tipikal daerah berkawah), kemudian tanah. Ada juga jalanan yang sudah ditangga-tanggakan dengan batu-batu besar. Apa yang dikatakan banyak orang di dunia maya, tentang kemiringan jalan di Papandayan ini cukup ramah untuk pendaki pemula, benar adanya. Ya meskipun namanya naik gunung ya, pasti bikin payah juga pas naik haha apalagi ada bawaannya #curhat. Tapi cukup banyak juga bonus track-nya, cukup untuk mengembalikan stamina. Kalau aku sih suka banget sambil jalan itu ngisep Madurasa, rasanya manis bikin perjalanan jadi manis juga.  
Ghober Hoet diguyur hujan
Kami berencana berkemah di Pondok Saladah. Dari gerbang hingga Pondok Saladah kami melewati empat pos yaitu 6, lalu 7, 8, dan terakhir 9 atau Ghober Hoet. Di Ghober Hoet ini terdapat tiga warung. Aku, Ka Ica, dan Aldo beristirahat di salah satunya. Di warung ini ada banyak barang yang dijual, mulai dari gorengan, seblak (waahhhhh pengennnnn tapi takut mencret), kopi, sampai tali rafia. Gorengannya nggak mahal juga kok, Rp1000,00 harga satuannya, enak pula. Tehnya sih yang mahal, Rp5000,00. Saran aku kalau lewat Ghober Haut kudu mampir beli gorengan di sini.

"Git Git itu kok langsung pos 6 sih? Pos 1-nya yang mana?"

Nah untuk ini aku juga kurang paham, aku iyain aja dulu sih biar cepat. Sepertinya juga ada dua jalur untuk mencapai Pondok Saladah. Kalau tidak salah setelah pos 7 itu kita dihadapkan pada dua jalur, yang kanan (ini yg aku tempuh) lewat hutan gitu. Nah yang ke kiri itu lewat tangga batu, membawa kita langsung bertemu Hutan Mati. Lebih curam yang kiri ini. Tapi yang aku lihat kemarin papan penunjuk "JALUR PENDAKIAN" hanya ada satu yaitu yang mengarah ke kanan, jadi yaudah aku lewat kanan. 

Hanya 30 menit kami berjalan dari Ghober Hoet hingga Pondok Saladah, kami sampai pukul 12.30 siang. Langit masih suram dan hujan. Di Saladah kami diwajibkan lapor ke petugas sebelum mendirikan tenda. Ketika melapor kami diberi pasak yang ada nomornya, untuk dipasang di depan tenda. Kami dapat nomor 047. 
Menyikapi mendung 
Aku merasa pendakian kali ini siap banget. Seminggu sebelum naik aku udah lari kecil, senam lantai, dan lain-lain. Logistik kusiapkan yang paling baik. Tapi aku ternyata masih sesombong ini: aku gak bawa baju ganti (cuma dalaman doang). Pikirku, sebelum-sebelumnya aku bawa tapi ga kepakai. Nah ya ternyata di Papandayan ini gerimis seharian dong aaaaa -___-" Meskipun sudah pakai jas hujan ternyata masih basah juga. Kerilku lebih parah, kan tadi dinaikin di atapnya angkot jadi basah juga. Aku memang belum punya raincover, tapi salahku juga aku nggak memasukkan semua bawaan dalam plastik sebelum masuk keril (biasanya plastiknya yang hitam seperti buat ngangkut sampah itu loh). Untung masih bawa, tapi iya lupa gitu ga kupakai buat membungkus barang. Akibatnya sleeping bag, kaos kaki, slayer, pada basah semua. Sedihlah.
Memang betul orang bilang. Naik gunung itu ga boleh somski a.k.a sombong. Siapkan untuk kondisi yang terburuk, karena kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi. Yahhh, maafkan aku ya tas aku, kaos kaki aku, dan slayerku sayang. Selanjutnya aku nggak akan gini lagi koooook! Huhuuuu dinginnnn kaosnya basah. 

Karena gerimis masih hilang-ada-hilang-ada, tidak banyak yang kami bisa lakukan. Hanya mengobrol di tenda, makan, tidur, gitu aja sampai pagi hahaha.
Taken by Aldo
Minggu pagi kami sarapan mie pakai telor (udah dari lama pengen makan mie di gunung haha asik kesampaian!). Meski hujan telah reda, tapi di luar masih belum ada matahari. Aldo dengan kekuatan bersosialisasinya main ke tenda tetangga sebelah, diberi tahu kalau Saladah ini udah dekat banget sama padang edelweiss. Banget dekatnya, kepleset juga nyampe. Kami ke padang edelweiss dua kali, yang pertama pukul 8 pagi. Kami foto-foto, lalu balik tenda untuk beberes. Kemudian cuaca membaik, sudah ada matahari, kami balik lagi ke edelweiss 100 menit kemudian. Mantap jiwa! Warna pohon-pohon edelweiss jadi lebih keemasan karena ada matahari. Oh oh inikah kamu edelweiss akhinya kita bisa bertemuuuu~~~ 
Menuju Hutan Mati
Kami turun gunung mulai pukul 11.20 waktu setempat. Perjalanan turun ini akan melewati edelweiss lagi (yeay!), lalu Hutan Mati. Setengah jam saja dari Pondok Saladah kami sudah sampai di Hutan Mati, banyak orang udah di sana. Hutan Mati Papandayan kabarnya terbentuk karena erupsi pada tahun 2002. Semua pohonnya gelap batangnya, nggak ada yang berdaun satupun. Di latar belakangi gunung, beralaskan jutaan batuan kecil kekuningan, kontrasnya warna Hutan Mati membuatku ingat akan deskripsi wujud Putri Salju yang katanya "kulitnya putih merona (meski Hutan Mati ga merona ya) dan rambutnya sehitam kayu eboni".
Di tepian Hutan Mati kita juga bisa melihat salah satu kawahnya Papandayan. Well, kemarin sepanjang perjalanan naik kami ga bisa melihat pemandangan apapun karena gerimis. Bahkan di malam hari yang masih gerimis, ga bisa lihat bintang satupun. Ternyata saat cerah begini Papandayan indah banget.
Jalur turun kami beda banget dengan saat naik. Ini banyakan bertangga-tangganya. Ternyata tembusnya ya yang jalan bercabang setelah pos 7 yang aku ceritakan tadi.

"Git gak ke Tegal Alun?"
"Kami memutuskan nggak mencari Tegal Alun karena pemandangan edelweiss tadi pagi sudah cukup indah. Sebetulnya penasaran sih, tapi yaudah gitu aja."
"Atau jangan-jangan tempat edelweiss tadi Tegal Alun, Git?"
"Mungkin sih... Tapi kayanya bukan deh. Gak ada tulisannya. Sepertinya juga kurang besar kalau Tegal Alun mah. Tadi pas dari Saladah ke arah Hutan Mati ada papan penunjuk sih, mengarahkan ke kanan itu 'Tegal Alun' cuma ga jelas belok kanannya itu mana hahah jadi yaudah fokus ke Hutan Mati aja."
Di Hutan Mati lagi ada yang hidup
Untuk turun kembali ke kota kita pakai dua angkutan lagi, seperti saat naik. Pertama dengan mobil pick up, karena kami bertiga doang per orang jadinya Rp25.000,00. Turun kembali di pertigaan Cisurupan naik angkot Rp125.000,00 langsung jalan meski bertiga doang. Kalau ramean bisa lebih murah pastinja, cuma pas itu kami kayanya lupa ga nanyain harga dan baru tahu pas sampai Guntur. Yah yudah mau gimana ya~ 

Bus Primajasa kami berangkat ke Jakarta pukul 16.00 (pemberangkatan terakhir pukul 17.30). Lima setengah jam kemudian aku sampai di kamar kos. Ahhhh terima kasih Papandayan dan kawan-kawan, sampai ketemu di gunung selanjutnya ya!

Biaya Transportasi ke Papandayan

Rp52.000,00 Bus ke Garut
Rp25.000,00 Angkot ke Cisurupan
Rp5000,00 Ongkos angkut barang ke atas angkot
Rp20.000,00 Pick up ke Papandayan
Rp65.000,00 Ongkos masuk dan kemah di Papandayan
Rp25.000,00 Pick up ke Cisurupan
Rp41.666,67 Angkot ke Guntur
Rp52.000 bus ke Jakarta

Rp285.666,67 TOTAL


P & K
1. Banyak bak sampah di Papandayan, jadi terkutuklah kalian yang masih buang sampah sembarangan.
2. Banyak juga kamar mandi di Papandayan, manfaatkanlah untuk boker atau apapun tapi jangan lupa bayar ya 
3. Jangan songong kaya aku, persiapkanlah baju ganti. Masalahnya kalau baju basah kita pakai terus kemungkinan terburuknya adalah hipotermia. Untungnya ini Papandayan, sebelum masuk TWA masih ada jual kaos hihi. Jadi punya kaos Papandayan deh.
4. Bungkuslah isi keril dengan plastik untuk antisipasi kalau hujan, sehingga barang-barang di dalamnya tetap kering.
5. Papandayan bisa didaki dalam sehari. Banyak kok yang barengan sama kami naik siang sore udah mau balik.
6. Terima kasih lagi untuk Aldo dan Ka Ica atas kesabaran dan perkawanan kita ini. (ciaelah :D) Sampai ketemu lagi diiiiii mana aja boleh.
7. Terima kasih juga buat tetangga tenda, anak-anak PMI Jakarta Utara. Roti bakar dan coklat panas kalian enak banget asli -_-" manis banget semanis sambutan kalian ke kami heuheuheu maaf ga bisa ikut makan nasi liwet karena kenyang bangetttt semoga ketemu lagi 
8. Terpenting jadi yang terakhir terima kasih buat Allah karena sudah membawa aku kembali ke ketinggian itu. Ke tanah yang ditumbuhi edelweiss itu. Besok-besok mau lagi dong ya Allah~ 

OUR MOMENTS!
click to enlarge the photo

















Sunday, 27 November 2016

Start from 2821 asl

Padahal hidup aku selama ini di Kota Malang dikeliling gunung. Ada Arjuno, Panderman, Semeru, Butak, dan lainnya. Tapi rasanya untuk mendaki salah satu dari gunung itu aku harus menumpuk mimpi-mimpi dahulu, tahun demi tahun, sedikit demi sedikit, sampai menjadi bukit, untuk menggapai pos pertama. Baru pos pertama. Kasian nggak?

"Git ngomong apaaa siiih? Gak terkopi! Muluk bangeut!"

Simpelnya, aku selama ini sungguh ingin naik gunung. Namun sebagai anak introvert yang selalu terlambat dalam banyak hal aku ga punya teman untuk mendaki. Makanya ga naik-naik. Teman itu baru ada Sabtu lalu, tanggal 14 di bulan basah Oktober (i know its kinda late post...). Hari dan tanggal yang bersejarah, aku ga mungkin lupa sama tanggal itu, kawan mendakiku, tetangga tenda, dan awan-awan tipis di atas kota yang menyambut kami. Gunung pertama yang berjodoh denganku adalah Gunung Cikuray di Garut sana. Orang yang mengajakku adalah teman kerja seangkatanku, namanya Aby. Owoooooh LONG LIFE ABY!!! Satu lagi temen perjalanan yang diajakin namanya Adib, juga teman kerja seangkatanku.

Kami berangkat ke Garut dari terminal Kampung Rambutan, bertolak tepatnya sekitar pukul 12.30 dini hari. Banyak banget barengannya yang satu bus sama kami, meski kebanyakan tujuannya adalah Papandayan. Bus kami sampai di terminal Guntur sekitar jam 5 pagi. Meski termasuk cepat tapi ternyata kami kesiangan, kata mamangnya sih jam 4 pagi tadi udah banyak yang berangkat duluan. Untuk menuju Gunung Cikuray dari terminal Guntur kita perlu naik angkot 06 (kata internet) atau carter. Nah tapi sepanjang mata melihat sih ga nemu angkot 6, yang ada hanya pick up untuk carter itu.

Ngaplo nunggu barengan di Guntur

Satu pick up karena kami bertiga doang dibanderol seharga Rp250.000,00 kurang lebih. Kami kira itu pick up akan bawa kami sampai ke pos pertama yaitu Pemancar. Tapi ternyata nggak juga, karena beberapa meter sebelum sampai pemancar itu si pick up nyerah, alasannya kalau naik kurang beban jd melorot takutnya. Jadilah kami ditransfer ke pick up di depan kami. Kami dioper setelah melewati dua pos yang memungut biaya. Oiya di sepanjang perjalanan ini kami bertemu dua atau tiga pos gitu yang memungut biaya. Kurang paham untuk apa pemungutan biaya tersebut. Ada yang mematok harga, ada juga yang seikhlasnya.

Pick up operan yang menampung kami sudah terlebih dahulu berisi empat orang. Kami berkenalan, mereka ternyata pada masih kuliah di Cirebon sono. Namanya Sabi, Itoh. Yeni. dan Ucup. Kalau di geng aku akulah yang jalannya paling lama, nah di geng mereka si Ucup ini jagonya. Jagonya jalan paling lama. Hahahha.

Sakit deh naik pick up lewat jalan ini hahahaha
Begitu sampai di Pemancar jalur yang pertama kami harus lewati ada di antara kebun teh. Nanjaknya memang nggak terlalu, mungkin kemiringan jalan hanya berapa belas persen saja. Tapi panjaaang banget. Ini pendakian pertamaku, dan di jalur inilah aku tahu maknanya 'naik gunung itu capek...'. Aku baru jalan berapa meter rasanya udah nggak kuat. Aku pengen pulang. Hiks. Aku tahu mentalku pun kalah sudah. Tapi aku malu buat ngaku. Malu banget. Saat di darat aku super semangat, nah lantas baru berapa meter naik udah nyerah gitu? Aku tahu harusnya kalau capek itu nggak boleh diam aja. Tapi baru berapa meter gini loh, ntar mereka bingung lagi? Kaki aku pun sudah lemas dan gemetar gitu. (Jangan ditiru yah, kalau pas naik tuh capek bilang aja. Jangan bilang kuat tapi tiba-tiba mati kelelahan)
Akhirnya aku pura-pura minta ganti sepatu. Mayan deh istirahat sejenak. Dua menit yang berharga untuk meyakinkan pikiran sendiri...

"Git kudu semangat dong ini kan yang dipengen selama ini!"
"Gitttt ini baru awal looooh how can you stand above the cloud kalau di pucuk daun teh aja udah payahhhhh?"
"Git katanya mau Rinjani..."
"Gita semangaattttttttttttt!"
"Gitong semangaattttttttttttt!"
"Gentong semangaattttttttttttt!"
"Git katanya pengen lihat yang dia lihat..."

AHA!

Ternyata yang paling ampuh nyemangatin adalah saat teringat mimpiku sendiri. Hihihi. Begitulah yang terjadi saat itu. Setelah istirahat itu, aku berdiri dan terus berjalan mengikuti ritme kelompokku. Meski merasa amat lelah dan lambat, aku berusaha terus maju. Setelah pemberhentian itu kami tidak lagi bertiga, tapi jadi bertujuh dengan mahasiswa-mahasiswa Cirebon yang bareng pas di pick up. Yeayyy, ternyata makin banyak makin semangat.
Selama di perjalanan aku merasa senang banget karena aku bisa menyapa semua orang tanpa dijutekin. Aku juga diajak ngobrol sama banyak orang. Senyum ke semua orang tanpa dianggap aneh. Kalau di Jakarta kan nggak gitu :(

Ada yang lebih parah dari ini? Banyak kok hahaha

Setelah kebun teh, jalurnya hanya ada hutan dengan akar yang besar-besar. Bonus track cuma dikit, jalannya nanjak melulu. Kadang ada jalanan yang beda tingginya semeter, jadi kudu banget dipanjat. Tidak ada sumber air, oleh karena itu kita perlu membawa banyak persediaan air minum. Masing-masing orang bawa 3 atau 4 botol 1.5 liter sepertinja cukup.
Ada tujuh pos yang harus kita lewati menuju puncak. Kemarin sih kami bertujuh mendirikan tenda di pos 3, tepat setelah kami makan siang. Sebetulnya nggak pengen juga kemah di situ, pengennya yang deket aja gitu sama puncak. Tapi pas mau gas naik kok sepertinja turun kabut dan hujan ya? Pasti jalanan akan licin, juga jarak pandang juga terganggu. Kami pun memutuskan mendirikan tenda saja. Satu rombongan lagi pun ikut mendirikan tenda di sebelah kami, geng anak Cawang yang kayaknya pada satu RT gitu rumahnya. Aaaah sik deh punya tetangga.~

Geng Cawang pengen foto bareng 
Sore harinya hujan betulan turun deras. Kami menunggu sambil ngobrol panjangggggggggggggggg kemudian tidur ahahahah. Seru juga yah tidur di tenda terus di luar hujan! Bunyinya kaya hujan itu langsung turun ke kepala. Berkat hujan ternyata tetangga kami bertambah dua. Satu di samping tendaku dan satu lagi agak dekat dengan jalan.
Hujan baru benar-benar berhenti sekitar pukul 10 malaman. Alhamdulillah. Jadi kami bisa muncak nantinya. Tidur tenang dulu yeayyyy. 


Puncak Mendung 

Kami muncak berangkat jam 1 dini hari. Anggota yang ikut adalah Aku, Aby, Itoh, Adib, dan Ucup. Dua yang lain yaitu Sabi dan Yeni ternyata nggak bisa ikut lantaran si Yeni ini sakit dan si Sabi menjaganya.
Kami berjalan menuju puncak (kaya AFI-_-) selama 3 jam. Kami melewati makin banyak tenda setelah pos 5, makin dekat puncak. Bahkan ada yang kemah di puncaknya. Bukannya bahaya ya kemah di puncak? Aku sebagai pemula kurang paham sih apa bahayanya pentingnya. Kalau ada badai mungkin susah gitu menyelamatkan dirinya?
Kami sampai di puncak sekitar pukul 5 pagi (sejam ngopi dulu dan sholat di dekat pos 7). Sayangnya mendung, jadi aku kesepian. Dalam artian nggak ada awan-awan yang selama ini kubayangkan bakal bergelombang, menemaniku lihat matahari terbit. Yah sabar aja kali ya, kan puncak cuma bonus. Aku kudu bersyukur dulu karena bisa sampai sini jalan yang kulalu nggak mudah. ^__^ Yeyeyey puncak pertama~

Terkutuklah buat yang nyoretin!!! (btw ada seonggok Itoh berdiri di depannya :D)
Di puncak ada suatu bangunan entah apa. Di dalamnya banyak yang tidur di sana, di sekitarnya juga banyak. Tapi sedih lihat bangunan itu, banyak coretan ga penting bikin kotor mata, tentu saja peninggalan tangan-tangan jahil tak bertanggung jawab. Semoga ada perbaikan untuk bangunan tersebut.

Kami hanya sejam di puncak. Turun balik ke pos 3 hanya memakan waktu satu setengah jam, hihihi cepet juga yah. Sesampainya di tenda kami pun menyiapkan sarapan. Menunya nasi, ikan tuna asap, seblak kering, dan sop. Makanan pembukanya adalah indomie goreng hahaha~

Perjalanan turun baliknya lebih cepat, pada loncat-loncat hampir lari kenceng banget -_-. Kami sampai di Pemancar sekitar pukul setengah 2 siang. Untuk mencapai kembali terminal Guntur kami pakai pick up sewaan juga, tapi kali ini kami bareng dengan orang banyak karena pick up nggak mau jalan kalau nggak 17 orang. Begitulah, kami pun berpisah dengan geng anak Cirebon. Yaaahhh~

Thank you all
Sampai di terminal Guntur kita bisa mandi di kamar mandi umum kalau mau. Aku sih nggak hahaa. Tapi jangan lupa bahwa bus Prima Jasa arah Jakarta berangkat maksimum pukul 5 hingga 5.30 sore. Kalau ketinggalan repot loh~
Perjalanan balik ke Jakarta durasinya masih sama seperti saat berangkat, yaitu 5 sampai 6 jam. Aku dan Adib naik Prima Jasa yang bisa turun di Cawang. Sementara Aby naik sendiri yang turun di Lebak Bulus. Dari Cawang aku naik Taksi sampai kosan. Begitulah perjalananku ke Cikuray, gunung pertama yang memberi aku banyak hal baru.


P & K 
1. Gunung bukan tempat sampah. Tapi kok banyak sampah banget ya di Cikuray? Aku belum punya bandingan dengan gunung lain, tapi aku pun merasa Cikuray ini kotor sekali. Aku sungguh berharap para pendaki yang ke sana sadar bahwa apapun yang mereka bawa kemudian jadi sampah harus dan wajib hukumnya untuk dibawa turun. :( Ini tabiat yang sederhana sekali, tapi nggak banyak yang bisa melakukannya.

Contohlah abang-abang ganteng ini ya, sampah tuh dibawa turuuunnnn
2. Masih berkaitan dengan sampah, menurut Sabi sih meski setiap pendaki meski wajib membawa sampah turun sebaiknya untuk pengelola Wana Wisata Cikuray juga kudu ikut membantu menjaga kebersihan gunung. Kan ada biaya masuk tuh, coba deh dialokasikan sedikit untuk kebersihan~
3. Menurut info Sabi di Cikuray udah jadi mitos untuk jangan turun gunung di atas jam 7 malam. Doi bercerita pernah temannya turun jam 10 malam. Nah nyampenya jam 7 pagi. o_O Nyasar ga jelas gitu~ Padahal menurutku sih jalur yang dibuka cukup jelas. Yah believe it or not, kita cari amannya ajalah.
4. Aku senang banget bisa masak di gunung huahahahhahaa seru juga yaaah ternyata. Selama ini cuma bisa masak di dapur sih~~ Jangan lupa bawa Energen, menurutku makan minum Energen di gunung itu bisa lebih enak 100x lipat dari makan gratisan di daratan.
5. Jangan pernah ragu untuk nyapa saat di gunung, minimal sekedar memberi senyum saat mendaki. Kita hanya minoritas di antara pohon-pohon, hanya dengan sesama pendakilah kita bisa saling tolong dalam keadaan sulit dan senang.
6. Kalau kata Puput dan Edo (tetangga tenda yaitu anggota geng anak Cawang) rugi banget lu ke gunung ga dapet temen baru. Jadi kalau tetanggaan sama pendaki lain kenalan yang bener ya! Heuheuheu
7. Terima kasih bueratttt buat geng Cirebon dan geng Cawang, aku senang banget dapat temen baru seperti kalian: Itoh, Sabi, Ucup, Yeni, Edo, Puput, Ka Iren, Si Longor, dan Kaka Cawang lainnya yang 'ku tak tahu nama kalian hihii maaffffff. Semoga bangett banget ketemu lagi di gunung yang lain, dengan suasana yang masih hangat. Insha Allah.
8. Terima kasih makin berat buat kedua kawanku Aby dan Adib, yang paling sabar nungguin jalanku hihihihi :3 
9. Untukku pribadi, semoga Cikuray ini adalah awal dari perjalananku selanjutnya. Tambah semangat Gitaaaa!



OUR MOMENTS