Showing posts with label jawa timur. Show all posts
Showing posts with label jawa timur. Show all posts

Monday, 28 January 2019

Tumpak Sewu: Kering di Musim Basah

Aku nggak pernah bikin bucketlist tempat mana yang ingin kukunjungi, tapi kayanya ada banyak tempat yang aku pingin kunjungi. Sejak kecil aku hidup di Malang, tapi justru banyak tempat di sini yang belum sempat aku kunjungi karena aku kuper. Alhamdulillah, salah satu keinginanku kemarin aku sudah bisa kunjungi. Tempat itu adalah Air Terjun Tumpak Sewu atau Coban Sewu. Aku ke sana dengan teman-teman kuliahku. Yeaaayyyy kusuka air terjoooonnn!
Sarapan Nasi Lecep dulu biar semangkaaa semangat kakaaa!
Tumpak Sewu terletak di  Lumajang, Kabupaten Malang. Well ya, perjalanan ini menyadarkan aku bahwa Kabupaten Malang itu luassssss banget ya. 80 km lebih dan aku masih di Kabupaten Malang, gila gila gila. Ini gila. Sangat gendeng.

Kami sempat berhenti dulu untuk sarapan nasi pecel Mbok Djo di Dampit. Kami sampai di parkiran Tumpak Sewu setelah menempuh sekitar 2 jam 45 menit perjalanan dari Pakis (meeting point). Sepanjang jalan menuju Tumpak Sewu aku bisa melihat Mahameru, berpindah kadang di kiri kadang di kanan jalan. Aneh banget melihat puncak itu, karena aku pernah berada di sana. Seperti jauhhhh banget tapi aku pernah mencapainya. Terharu...
Tujuan kami sudah dekat karena Semeru kian nampak
Ada tiga gang masuk ke Tumpak Sewu, kami lewat gang yang ada lambang PDAM Tirta Dharma. Jalan gang itu nggak cukup untuk papasan dua mobil, jadi mesti gantian antara yang mau masuk dan keluar. Nggak jauh dari gang ada banner penyambut bahwa kita sudah sampai di jalan masuk Tumpak Sewu.

Tiket masuk per orang Rp10.000,00. Air terjun itu letaknya di bawah, sehingga untuk mencapainya kita harus turun banyak sekali tangga. Tapi ada terasnya kok, kalau ada yang hanya ingin lihat Tumpak Sewu dari atas saja.
Masya Allah, udah keren ketambahan ada pelangi pula!
Jalur untuk turun seharusnya juga ada tiga ya, karena tadi kan gang untuk masuk ada tiga. Tapi aku hanya tahu dua. Pertama curam tapi cepat sekitar 30 sampai 45 menit, ini lewat jalur masuk yang kami pakai. Kedua lebih lama tapi nggak gitu curam karena jalurnya bertangga-tangga, waktu tempuh 1,5 sampai 2 jam lewat jalur Gua Tetes. Aku dan keempat temanku turun pakai jalur yang pertama.
Oh iya, awalnya beberapa temanku sempat ragu untuk turun karena ada peringatan bahwa tiket yang kami pegang hanya bisa dipertanggung jawabkan sampai teras saja. Jadi kalau misal kita turun ya pengelola nggak bertanggung jawab kalau ada apa-apa.
Tangga kaya gini nggak cuman satu loh di jalur turun ke dasar air terjun :D
Yah sebagaimana di semua wisata alam (aku tahunya ya pas ke Semeru ya), pasti peringatannya kaya gitu ya. Jadi yaudah aja kembali ke pengunjung masing-masing. Lalu dari kami bersepuluh lima orang memutuskan untuk turun, sisanya di parkiran aja karena alasan kesehatan.

Jalur turun yang kami pilih emang beneran curam banget, karena tangganya pun macam tangga monyet gitu yang tegak sekali tetapi tanpa kurungan pengaman. Tapi memang waktu tempuh jadi lebih singkat, mengingat sepertinja dasar Tumpak Sewu itu dalam juga kalau dilihat dari teras tadi. Ngasih tahu aja, siap-siap kaki gemetar ya lewat sini hahahahaha. Dulunya tangga ini bambu, sekarang udah jadi besi gini. Lebih meyakinkan lah yha~

Meski musim hujan, tetapi siang itu tidak semua tirai Tumpak Sewu deras mengucurkan air. Padahal katanya di sini setiap jam 1 siang hujan. Ketika sudah sampai di depannya langsung, Tumpak Sewu seakan melebar. Merentangkan kedua tangan saja tidak cukup untuk memeluknya. Kita cuma manusia kecil di depan Tumpak Sewu (apalagi di alam semesta). Masya Allah. 
Nggak bisa banget atur ISO kamera hahaha jadi gini deh warna fotonya
Perjalanan balik ke parkiran atas kami tempuh dari jalur lain, kami lewat jalannya Gua Tetes. Kami berlima diharuskan bayar lagi per orang Rp10.000,00. Untuk jalur ini pemandangannya lebih indah karena kita akan melewati beberapa coban sekitar sepanjang 150 meter, kudu hati-hati jangan sampai tersesat karena penunjuk jalannya masih jarang. Kemudian sehabis coban jalurnya jadi tangga-tangga capek sepanjang 450 meter kurang lebih (info jarak ini didapat dari pak penjaga tiket).

Perjalanan lewat jalur ini membuat kita lebih basah dan ngos-ngosan. Karena memang beneran lewat alur-alur air dan tangganya kan banyak.
Ketika sampai di atas kami bukan sampai di parkiran tempat kami masuk ya, kami munculnya di pintu masuk Gua Tetes. Untungnya teman-teman kami tadi menjemput langsung tanpa ditelfon (trims gengssss!). Kalau enggak kami naik ojek dulu sampai parkiran tempat kami masuk. Ongkosnya di luar tiket.
Kalau pulang lewat jalur Gua Tetes kita akan lewat beberapa kali air terjun yang segar kaya gini loh
Setiap air terjun memiliki keindahan masing-masing. Tumpak Sewu seperti tirai raksasa, melingkar menghiasi tebing agar tidak melulu warna hijau dan gelap yang ada di sana. Dia juga cantik karena mencapai dasarnya nggak-semudah-itu. Bonus buat kami, kemarin lihat pelangi di dasar air terjun. Keren abiiiis! Masya Allah. Mau kaya gini lagi dong Ya Allah~
Horeee sampai di pintu masuk Gua Tetes 


***

P & K 
1. Aku ga jago foto sama sekali jadi mohon maaf kalau foto-foto di blog ini jelek semua bhahaha.
2. Jarang-jarang aku pergi berbanyak gini ;D Terima kasih ya kawan-kawan.
3. Guys selalu ya, bawa baju ganti ya kalau ke air terjun. Ya kecuali kalian emang suka basah, kaya kalau makan mie pangsit gitu.
4. Hindari pakai sandal jepit kalau ke sini.
5. Ada warung kok di bawah, misal mau beli apa gitu.
6. Jangan lupa menikmati karena sibuk dokumentasi.
7. Trims berat buat Helen, Apri, Riris, Ganes, Doni, Mas Kiki, Surya, Yoga, dan Billy yang sudah menemani dengan sabar dan nungguin aku hihi.
8. Terima kasih buat Allah juga yang sudah menciptakan air terjun Tumpak Sewu. Gile, ide dari mana Ya Allah bisa keren kaya gitu? Maha Nyeni ya Allah ini, The One and only.

COBAN SEWU (TUMPAK SEWU WATERFALL)
(click to enlarge the photo or direct your cursor to see the title)

Sunday, 20 May 2018

Pendakian Semeru: Turun dari 3676 ke 444 mdpl (3/3)

24 April 2018
"Tujuan utama adalah pulang ke rumah dengan selamat. Puncak hanya bonus."~N.N
Gaiter sudah kupasang. Trekking pole yang digunakan menyanggah fly sheet juga sudah kuambil. Aku makan nutrijell yang rasanya mirip brownies, enak haha terasa banget coklatnya. Akhirnya malam ini datang juga. Malam yang telah kupersiapkan sejak lama: Malam menuju puncak! Bukan AFI tapi ya. Kami berangkat pukul 23.40 dari tenda setelah berdoa bersama. Doaku tidak berubah sejak sebulan lalu, semoga kami bisa dapat bonus yaitu puncak Mahameru, berlima. Okelah ya sekarang berempat doang tapi kan Yones aman di tenda. Bismillahirrahmanirrahimm semangat kangkawaaaaan Insya Allah Mahameruuu~ 


Cocok menemani kita lihatin awan dari Mahameru :D Selamat mencoba! 

Jalan terus menanjak tiada henti setelah dari Kalimati. Sejujurnya aku merasa capek banget di sini. Mungkin karena dari kemarin jalur yang kulalui landai? Jadi nanjak mulu kaya gini aku jadi kaget? Anggap saja begitu. Padahal ya tanah biasa yang kutapaki. Tapi asli jalur ini melelahkan... kalau nggak ingat persiapan yang sudah kulakukan seminggu sebelumnya aku mungkin udah nyerah...

"Emang persiapannya apa, Git?"
"Secara fisik seminggu penuh sebelum naik aku lari tiap pagi. Hari pertama 1,5 km dan di hari terakhir 3 km. Aku nggak pernah serajin itu sih olah raga haha jadi aku benar-benar menghargai persiapanku ini. Aku khawatir lututku lemas ga jelas kalau aku nggak pemanasan gini, malah ngerepotin orang nanti. Persiapan lain ya alat-alat kulengkapi. Aku beli trekking pole, gaiter, dan jaket lagi. Semuanya demi hari ini..." 


Aku mengantongi tiga bungkus Madurasa, kurang rasanya, karena aku kan kecanduan Madurasa kalau di ketinggian gini wkwk. Malu mau minta sama Umaru yang membagi-bagikan madu, ntar dikira kemaruk ... 

Setelah satu jam setengah kami berjalan akhirnya ujung jalan menanjak ini berakhir juga. Pukul 01.08 kami sampai di Cemoro Tunggal, area batas antara pepohonan cemara dengan jalur yang paling dikenal dari Gunung Semeru: jalur pasir! Sudah banyak orang yang sampai di sana. Seseorang menarik tanganku untuk duduk sejenak sebelum menapaki pasir demi pasir menuju Mahameru. Ada satu rombongan yang lagi duduk berkelompok yang menurut aku keren banget, mereka itu dari Bali. Entah dari komunitas atau perkumpulan apa, mereka pakai jaket yang sama yaitu warna oranye tebal gitu. Bagiku mereka udah mirip sama astronot yang siap mendarat di bulan, makanya menurutku mereka kewreeeennn.
Puncak Abadi para Dewa
Satu demi satu rombongan mulai bangkit untuk jalan lagi. Setelah ini nggak ada jalan lain selain pasir. Aku sudah cari-cari tips untuk berjalan di jalur ini. Kalau menurut pengarahan kemarin sebelum naik kan katanya naiknya disuruh zig-zag gitu. Sumber lain yang kudapat di internet menyarankan ketika melangkah jangan menapak sepenuhnya, tetapi hujamkan ujung sepatu ke pasir. Kebayang nggak sih? Aku mencoba saran ini dan terbukti efektif. Coba baca langsung di sumbernya ini: Tips Summit Attack Gunung Semeru.
Kabar yang sering kudengar kalau jalan di jalur ini naik selangkah turun tiga langkah, tidak kualami. Yakali ya, kalau gitu sih ga ada orang bisa nyampe ke atas. Kecuali kalau kita berdiri diam lalu berhenti terlalu lama, memang akan merosot tapi nggak tiga langkah jugaaaaa. Jadi kalau istirahahat duduk saja dan jangan menghalangi jalan.
Buaya mau ditembak tank tentara
Alhamdulillah di jalur pasir ini aku merasa lebih nyaman dibanding jalur sebelumnya. Lelah ya lelah jelas, karena ini jalurnya menanjak. Tapi tidak selelah jalur sebelumnya, sungguh deh.
Aku mulai merasakan 'ini kapan nyampenya...' sekitar pukul 03.30. Pukul 4.30-an saat azan subuh (kira-kira) sudah berkumandang aku minta Aldo kami sholat dulu aja sekalian ambil napas panjang. Sepertinja puncak juga sudah dekat, namun semakin dekat semakin terasa lelahnya hahah makanya aku minta solat dulu aja deehhhhh. Ada area yang agak datar lalu di situlah kami solat berjamaah.

Setelah sholat kurasakan energiku kembali terisi, nggak penuh-penuh banget tapi cukuplah untuk muncak. Tepat pukul 05.00 waktu Indonesia barat; akhirnya tidak ada lagi tanjakan curam. Hanya ada dataran di depan mataku, dengan taburan batu seukuran kepalan tangan atau lebih. Alhamdulillah, aku dan Aldo sampai Mahameru.

Ternyata ini Puncak para Dewa. Aku terharu, mataku berkaca-kaca. Tapi air mata kutahan biar nggak nangis. Biar bisa kulihat dengan jelas; apa sih pemandangan yang para Dewa saksikan tiap pagi di sini?

Gunung Bromo, Arjuno, Penanggungan, dan Raung terlihat di sekeliling Semeru. Di sebelah timur langit sudah makin berwarna oranye. Sambil menunggu Ka Ica dan Umaru datang aku duduk di atas batu, menonton langit itu. Bentuk awannya seperti buaya dan tank tentara, lucuuu. Aku memandanginya tanpa harus mendongak seperti di hari lain, posisi kami seakan sejajar.
Namun tiba-tiba terdengar suara dentuman besar. Kaget woy. Itulah letusan kawah Jonggring Saloko. Kukira kepulan asapnya akan sampai ke tempatku, bingung aku kudu lari apa gimanaaaaaa tapi orang-orang santai banget -___-" malah ngumpul ambil gambar. Yaudah aku ngikut santai . Kemudian kawah kembali meletus beberapa setelahnya, dua kali. Sudah nggak kaget lagi sekarang. Hacep emang Semeru mah. Keren parah! Mantap soul!

Setengah jam kemudian Ka Ica dan Umaru sampai. Makin siang dingin makin merasuki jaket, diukur oleh Umaru suhunya 15°C. Tapi aku merasa ngantuk juga. Menanti kawan-kawanku berfoto aku pingin tidur gitu, tapi nggak bergerak membuat aku makin kedinginan hahah rempong yhaaaa.
Kawah Jonggring Saloko bersin pertama pagi itu
Jamku sudah menunjukkan pukul 07.30 saat kami bersama melangkah turun dari Puncak Mahameru. Naiknya capek karena nanjak, bagiku turunnya lebihhhh capek. Nggak paham kenapanya yang bikin capek, tapi punggungku lemas nih pas turun di jalur pasir ini haha ngantuk pula.  Pingin tidur sebentar ntar ditinggal sama teman-teman wkwkwk. Kali ini pemandangan di sekitarku terlihat jelas karena matahari sudah muncul. Hutan cemara bergerak sedikit mengikuti bagaimana angin bertiup. Saat kami sampai di Cemoro Tunggal rasanya haus bangetttt, air sudah habis. Coklat panas juga habis. Kami minta air ke bapak-bapak dari Indramayu yang berangkat naik Jeep-nya barengan sama kami. Aku nggak bisa lagi menggambarkan betapa enaknya air putih itu, kayanya itu air tersegar se Indonesia yang pernah kuminum gilaaaa haus banget gilaaaaa. Terima kasih Indramayu telah mengirimkan bapak ini ke Cemoro Tunggal Semeru!! 
Turun gunung
Jalur Cemoro Tunggal ke Kalimati ternyata emang asli curam banget. Saat naik dini hari tadi aku hanya bisa merasakan kecuraman jalan ini dari lelahku. Tapi pagi ini aku menyaksikannya, emang curam! Sampai gak percaya rasanya seorang aku kok bisa sih tadi lewat sini? Begitulah keuntungannya kalau kita mendaki saat gelap, kita nggak menyaksikan langsung jalur yang kita lewati ini seperti apa. Curam atau tajam hanya gelap dan Allah yang tahu. Energi kita tercurah sepenuhnya menjadi semangat untuk terus berjalan tanpa ada kekhawatirkan bagaimana melintasi jalur yang ada di tikungan berikutnya...
Hanya perlu satu jam untuk menuruni jalur puncak (pasir) dan satu jam juga dari Cemoro Tunggal ke Kalimati. Artinja dua jam perjalanan turun dari Mahameru sampai kemah kami di Kalimati, padahal naiknya kan lima jam setengah haha. Kami sampai di kemah pukul 08.41. Senang sekali bisa jumpa lagi dengan Yones, dalam artian kami telah kembali ke kemah dengan selamat alhamdulillah. Selanjutnya mari kita tidur lagi duluuuuu haha~ Ka Ica, Umaru, dan Aldo sudah pasang posisi di dalam tenda. Aku nyaman berbaring di matras depan tenda. 
Menuju Kalimati

***

Selesai makan siang-rangkap-pagi, problema pencucian piring kembali muncul. Tapi langsung muncul juga solusinya; ternyata tetangga tenda kami bawa sabun cuci piring atau yang Bahasa Inggrisnya itu Mama Lemon! Wadawwww langsunglah kami pinjam setetes dua tetes kehidupan. 
Tetangga kami ini anak-anak SMA dari Kendal. Mereka naik bersama dengan tiga belas kawannya, sampai bawa ha-te gitu wkwkwk terbaik lah. Kami pertama kali bertemu dengan mereka pas di bukit setelah Tanjakan Cinta. Selain rombongan ini yang juga sering kebarengan adalah yang dari Indramayu (bareng naik Jeep pas berangkat) dan Depok.
Jambangan kalau cerah cantik banget
Kami kembali ke Ranu Kumbolo sore hari pukul 15.18 dengan Yones memimpin barisan. Dia sepertinja sudah merasa lebih baik lututnya sehingga jalannya kencang banget nggak kayak pas berangkat dia lemas gitu hahaha Alhamdulillah. Sesuatu yang kupikirkan melihat Yones dengan lututnya yang cidera begitu adalah; meski mudah sakit laki-laki diciptakan dengan fisik yang kuat. Jalan kaki dari Ranu Pane ke Kalimati nggak dekat loh, nanjak pula. Itu lutut yang sakit, tapi masih bisa buat jalan jauh ada bawaan juga di punggung. Masya Allah keren bangetlah ciptaan Allah. Kalau aku sih udah minta gendong aja.
Saat di Jambangan Yones berfoto dengan Puncak Mahameru yang terlihat jelas, sore itu cerah.

"Nggak muncak tapi bolehlah foto sama puncaknya," kata Yones. 
"Mantap, Uda!"

Jalur yang kami lewati sama seperti saat berangkat, kecuali di Oro-oro Ombo. Saat berangkat kami lewat bawah, berjalan di antara tanaman parasit yang ungu itu loh. Kali ini kami mencoba lewat bukit di tepi kanannya. Keuntungannya lewat jalur ini kami nggak perlu naik terlalu tajam menuju bukit Tanjakan Cinta. Tetap sih jalurnya nanjak, tapi lebih panjang. Keren banget pemandangannya Oro-oro Ombo dari sini.
Kami sampai di Ranu Kumbolo pukul 17.30. Bagus banget Ranu Kumbolo sore hari, hasrat minta mie ke tetangga jadi muncul (nggak nyambung, Git!)
Kalau lewat bawah naiknya lewat yang bergaris hitam itu tapi kalau lewat kanan seperti jalur yang kami lalui ini

***

25 April 2018

Pagi lagi di Ranu Kumbolo. Di langit masih ada bintang. Matahari sudah mulai naik di balik bukit yang melatar belakangi Ranu Kumbolo. Sepertinja pagi ini cerah banget, nggak ada awan yang menyamarkan siluet fajar. Aku menawarkan diri mengisi botol dengan air Ranu Kumbolo, tapi sebetulnya agar bisa berlama-lama di tepian danau menonton sinar matahari. 

"Lah Git emang kalau nonton doang tanpa pakai alasan ngisi air ga boleh?"
"Gapapa sih biar kelihatan sibuk aja gitu hehehe."

Dingin pagi itu. Air seluruh permukaan danau menguap, sepengamatanku uap-uap itu seperti berjalan berduyun-duyun ke arah bukit. Ranu Kumbolo jadi kelihatan magis. Aku jadi membayangkan gimana seandainya aku bisa berjalan di atas air, di atas danau itu, orang-orang yang lagi kemah ini heboh nggak ya? Karena uapnya yang bergulung-gulung itu seperti membuat pikiranku terasa ringan, ingin melayang juga ke arah bukit~

Padahal belum juga jam 6, tapi sudah terang sekali Ranu Kumbolo. Aku melanjutkan kegiatan mencuci piring yang kotor karena dipakai semalam, sambil lihatin Umaru dan Yones foto-foto berlatarkan Tanjakan Cinta. Macam model majalah Femina aja. Hmm~
Sesi pemotretan Uda Yones 
Hari ini hari terakhir pendakian kami. Sudah saatnya pulang dan gosok gigi. Setelah berkemas kami berpamitan dengan tetangga-tetangga tenda, terutama sama rombongan yang sering papasan yaitu yang dari Depok dan Kendal. Kami mulai turun gunung pukul 10.12. Semua jalur pulang yang kami lewati juga sama seperti saat naik kecuali saat masih di dekat-dekat Ranu Kumbolo. Aku baru paham ternyata tempat untuk kemah yang di Ranu Kumbolo itu ada dua area, yang pertama tentu saja yang berada di antara Tanjakan Cinta dan Ranu Kumbolo. Area yang kedua yang lebih dekat dari pos 4, di sebelah utara danau atau di sebelah kirinya danau kalau dilihat dari area kemah yang pertama. Legal kok kemah di sana, terbukti dari adanya batas mendirikan tenda. Tapi memang tidak seramai yang di area pertama. Kalau kita jalan lewat area kemah ini lebih cepat meski jalannya ada naik turunnya, tetapi lebih cepat dibanding kalau lewat belakangnya area kemah ini meski lebih landai (saat berangkatnya kamu lewat belakang lahan kemah ini). Saat naik di hari pertama kami nggak bisa lihat banyak pemandangan karena sudah petang. Sekarang kami turun di siang, teduh saat itu. Ternyata di perjalanan kami bisa melihat Ranu Kumbolo di sudut pandang lain. Puncak Mahameru juga sempat terlihat di perjalanan sebelum Pos 4.
Lahan kemah di sisi Utara 
Kami sampai di Pos 1 sekitar pukul 12.30. Kami bertemu lagi dengan rombongan Indramayu, di sanalah kami janjian lagi untuk pulang bareng. Di sanalah aku baru sadar banget kalau Semangka di Pos 1 ukurannya tiga kali lipat dibanding yang di Jambangan hahaha. Kemudian kami melanjutkan perjalanan turun, sampai di Ranu Pane pukul 13.47. Alhamdulillah. Aku beli souvenir tempelan kulkas, gantungan kunci, kaos, dan cutting sticker.

Kembali naik Jeep menuju Pasar Tumpang, aku dan Ka Ica naik di depan lagi. Sempat tertidur sebentar di perjalanan hahaha ngantuk banget gengggggg. Oiya kalau mau beli oleh-oleh apel gitu misal bisa loh. Kan kita jalan itu lewat Poncokusumo. Kalau nggak pingin beli ke Batu, produksi terbaik kalau di Malang apel ya dari Poncokusumo. Apelnya hijau gitu. Pak yang nyopirin Jeep sempat menawarkan mau beli apel nggak, kalau kami mau doi mau kok menepi dan menunggu kami beli.
Sampai di Pasar Tumpang kami carter angkot lagi untuk balik ke rumah aku di Kotalama. Dengan bantuan abang yang nyopirin Jeep kami dapat angkotnya. Sungguh lega bisa sampai rumah lagi. Malam ini kami istirahat dulu di rumah aku, besok baru pada balik. Alhamdulillah, lancar pendakian kali ini. Walaupun gigi kotor nggak kesikat (aku doang hahah), tapi kami bisa pulang dengan selamat. Dapat bonus puncak pula.
Berangkat selamat pulang selamat
Kami sampai di rumahku Kotalama sekitar pukul 19.00 alhamdulillah. Buat aku pribadi aku merasa keren banget bisa main ke Poncokusumo (dulu sebelum merantau mana pernah aku main jauh di Malang haha malesssssss). Terima kasih kangkawan atas waktunya, candaanya, dan semuanya hahaha. Kapan-kapan main lagi ya ke +444. 

***

P & K
1. Baterai serep untuk headlamp aku bawa 4 set, meski tersisa 2 set tapi kita wajib bawa ya karena kita muncak itu kondisi gelap. Lebih baik lebih. 
2. Untuk saudara-saudariku yang muslim baca tahmid sepanjang muncak, Insya ALLAH menambah tenaga dan supaya dilindungi Allah sepanjang perjalanan. 
3. Bawa perbekalan yang cukup untuk di puncak, kapan lagi bisa minum coklat di Mahameru hahaha. 
4. Kenali fisik kita, kalau tidak kuat jangan paksakan. Tapi jangan mudah menyerah juga. Kekuatan mental itu penting. 
5. Jangan terlalu sibuk mengabadikan sampai lupa menikmati. Mahameru indah banget!
6. Untuk Aldo yang salah pakai jaket motor, sampai berasa kedinginan di atas, please yah Aldo jangan kau ulangi -_-"
7. Terima kasih lagi buat kangkawan-ku Ka Ica, Umaru, dan Aldo yang sudah bersamaku sampai puncak dan kembali lagi. Doaku terkabul, geng! Mantap jiwaaa
8. Terima kasih buat abang aku dan cece aku yang sudah pinjamkan nesting. Berguna banget haha besok-besok pinjem lagi ya :p
9. Total biaya perjalanan kami per orang di luar logistik dan surat keterangan sehat adalah Rp511.000,00. Berikut rinciannya:

Deskripsi Harga (Rp)
Kereta Berangkat - Jayabaya 260.000
Simaksi 75.000
Angkot Stasiun - Rumah Gita6.000
Angkot Rumah Gita - Tumpang25.000
Jeep ke Ranu Pane60.000
Jeep ke Tumpang 60.000
Angkot Tumpang - Rumah Gita25.000

10. Tak pernah lupa untuk mengingatkan BAWA TURUN SAMPAHMU, hai para manusia! Bagiku Semeru udah cukup bersih dibanding gunung yang lain tapi tetap aja ada kotor-kotornya. Semoga bisa bersih lagi dari waktu ke waktu.
11. Mungkin ada yang bertanya dalam hati, apa sih Git +444 di judul itu? Itu elevasi Stasiun Kotabaru Malang, coba perhatikan deh kalau pas lewat Stasiun Malang. Ada kok di lightbox-nya.
12. Terima kasih lagi buat kangkawan aku yang sudah bersama selama pendakian ini: Aldo, Umaru, Ka Ica, dan Uda Jonesssssss. Sampai ketemu lagi Insya Allah ndak tahu kapan hahaha.
13. Terima kasih lagi buat Allah Yang Maha Kuasa Yang Maha Besar Yang Maha Kerennnn satu lagi ciptaan-Mu yang membuatku merasa kecil seupil doang Ya Allah Semeru emang epic banget Ya Allah mau dong yang lain lagiiiiii heuheuheu

MOMENTS FROM SEMERU :D
(click to enlarge the photos or direct your cursor to see the titles)