Showing posts with label aktual. Show all posts
Showing posts with label aktual. Show all posts

Sunday, 30 October 2016

Lembur Tak Sampai

#Jakarta mode: on:#

Ini hari Minggu, gua lagi di kosan. Depan laptop. Lagi kerja. Lembur, katakanlah demikian. Daripada harus ke kantor memang gua lebih pilih bawa pulang laptop sih.
Kemarin selama weekday juga gua udah pulang malam mulu, jam 11 atau jam 12an lah. Jadi selama seminggu eh apa dua minggu kemarin hidup gua kaya gitu. Ga banyak lihat manusia selain orang kantor. Bosan? Pastinja. Gua juga kehilangan waktu-waktu me-time gua untuk menggambar dan menulis

Sedih...Lelah jiwa...

Kerjaan gua itu hubungannya sama gambar gitu deh, gambar konstruksi kalau bahasa umumnya. Perangkat lunak yang sering gua pakai adalah AutoCad. Versi yang terpasang di laptop ini ada dua yaitu 2010 dan 2013. Biasanya sih gua lebih sering pakai 2010 karena lebih ringan jadi lancar gitu bisa kerjanya. Cuma gatau kenapa yah hari ini versi 2010 pas dibuka (belum juga diapa-apain) udah FATAL ERROR. &$*@&*(&^$*#(&!)$!!!!!

Baiklah, mungkin gua disuruh buka versi 2013. Cuma problemanya ya gitu, lemoooot bener versi ini. Semenit dua menit tiga puluh menit gua kerja, kok kayaknya lemotnya semakin menjadi yah Kayanya lebih lemot daripada pas ngerjain di kantor gitu loh -__- Asli deh.

Kemauan gua untuk lembur kayanya ga sejalan dengan laptop ini. Mungkin doi meski hanya mesin biasa tahu bahwa ini hari Minggu. Biasanya doi cuma duduk doang di atas meja, bukannya tetap dipekerjakan seperti hari biasa. Lembur gua bertepuk sebelah tangan, boi. -__-

#Jakarta mode: off:#


Catatan: Tulisan di atas diketik saat sedang nunggu AutoCad 2013-nya loading ga jelas. 

Thursday, 20 October 2016

Thanks.

Saat ini aku merasa bukan rakyat Indonesia, tiba-tiba saja. Aku juga merasa nggak aman, insecure kata orang Inggris. 

"Ngapa gitu, Git?"

Karena aku nggak punya KTP. Aku takut tiba-tiba ada polisi razia ke kosan, lalu aku dikira TKW gelap yang menyamar menjadi aku. Polisi nggak bisa membuktikan aku warga negara asing, tapi juga nggak akan menganggapku orang Indonesia, sehingga keputusan mereka adalah aku dibuang ke negara tak bernama.

"Lah kamu juga kenapa Git ga punya KTP?"
"Hilang bro, karena dompetnya lenyap..."
"He serius duarius sagitarius?" 

Pada hari Sabtu aku jalan dengan dua kawanku, Tama dan Mas Jawa, ke Pasar Rumput. Kami dari Kuningan naik bus TransJakarta. Transit sekali di halte Halimun, kemudian naik bus yang ke Pasar Rumput turun langsung di depan pasar. Aku nggak belanja apa-apa, tujuanku jalan ini pun hanya mengantar Tama yang mencari tempat alat mandi di Pasar Rumput. Selama perjalanan aku ngga ada keluarin dompet sama sekali. Ngerogoh tas juga hanya sesekali.

Di pasar kami hanya sebentar saja karena barang yang dicari gak ada. Kami pun menyambung perjalanan ke Pasaraya Manggarai, yang ternyata juga ga menjual barang yang kami cari. Kami rencana mencari di Kota Kasablanka (Kokas) saja. Namun sebelum melanjutkan perjalanan dengan bus TransJakarta ke Kokas kami membeli minum lebih dahulu di toko swalayan pinggir jalan paling menyala se Indonesia. Aku nggak sebut nama tokonya, ntar doi makin laku lagi. Wkwkwkwk.

Saat akan membayar minuman itulah aku baru cari-cari dompetku untuk membayar. Kok ga ada yah? Kadang suka ga kelihatan sih lantaran warnanya hitam, suka terkamuflase gitu dengan warna dalam tasku yang juga hitam. Tapi euuuhhh... kali ini beneran ga ada, Boi! Kemanakah gerangan?

Aku panik. Aku sudah kehilangan nafsu untuk menemani Tama dan Mas Jawa ke Kokas. Kuputuskan pulang saja untuk mencari dompetku di kamar kos, meski pesimis. Kedua temanku itu yakin dompetku tertinggal di kamar kos, tapi aku nggak, karena aku ingat betul aku sudah taruh dompet itu di tas. Terbukti sih saat sampai kubongkar itu kamarku, penggeledahan kulakukan, meski dalam hati super ga yakin. Tapi memang hasilnya nihil. Sambil terus membaca QS. An-Nashr, aku mengingat-ingat dimana gerangan. Jatuhkah? Atau apa diambil orang? Tapi rasanya ga ada yang grepe-grepe...

Aku pasrah aja deh dengan hilangnya dompetku ini, meski sedih banget. Dompet aku itu warnanya hitam, lipat tiga, ada tempat receh, tempat kartu-kartu, dan tempat foto. Belinya pas aku kelas 9 SMP, berarti sekitar tahun 2007 lah ya. Waktu itu kubeli sekitar Rp70.000,00 atau Rp90.000,00 gitu lupa deh. Uang buat beli dompet itu kudapat dari Bapak aku yang habis menang isi TTS di koran Kompas. Beliau mau memberiku uang buat beli dompet karena itu TTS menangnya atas namaku. Hahaha.
Sudah banyak kulalui kenangan sama dompetku itu. Dialah tempat gaji pertamaku singgah. Dialah tempat aku menaruh uang SPP semasa SMA. Dia jugalah tempat uang saat aku jajan dengan kawan-kawan terbaikku. Pastinya dia tempat aku menaruh 'ongkos hidup' selama ini. Huhu... sedih~

Kehilangan uang selalu nggak seberapa, kenangannya itu loh yang bikin pedih. Menusuk di hati. Mengiris setiap urat masa indah. Oh iya KTP dan ATM juga ada di dompet itu. Ngurusnya kan repotin, kudu ke Malang (kan KTP-nya alamat Malang). Jadi makin sedih deh.


***

Aku membuat surat kehilangan di Polsek untuk kemudian kukirim ke Malang, buat ngurus KTP. Rencanannya Babe aku akan mencoba membuatkan, siapa tahu boleh gitu bikin KTP diwakilkan. Namun saat aku kirim itu surat hari Selasa pagi, sorenya ibuku sudah mengabarkan: "Git, paketan surat kehilangannya udah nyampe." Lah? Cepet amat! Lalu kukatakan sama ibuku kalau itu bukan surat kehilangan pasti, karena baru dikirim paginya mana mungkin sorenya udah sampai. Ketika ibuku membuka isi paketan tersebut ternyata isinya.............WOW! Isinya adalah semua isi dompetku! Man, this is so gay! 

Oh semua, kecuali uangnya tentunya; 
dan dompetnya... 

Wah aku langsung sumringah loh. Itu artinya aku ga perlu pulang untuk sekedar bikin KTP!

Di amplop tertulis pengirimnya adalah warga Menteng Dalam RT 06 RW 13 tapi tanpa nomor rumah :(. Namanya Muchdir. Beliau mencantumkan nomor hp sih, tapi sampai sekarang aku tidak menghubunginya, sebetulnya pingin langsung kudatangi rumahnya tapi kata Babe aku biar Babe aja yang hubungin.

Kalau suatu hari nanti si bapak itu misal googling namanya sendiri dan masuk blog ini semoga beliau membaca, tersadar, dan mengerti bahwa aku sangat berterima kasih padanya. Betapa kirimannya menyederhanakan banyak hal... sayanganya aku nggak bisa menyampaikan langsung. Kalau kata kawan-kawanku: "Lu kudu bersyukur banget, Git. Ternyata masi ada orang baik kaya gitu. Di Jakarta pula." 

Semoga cerita di atas menjadi contoh yang baik untuk siapapun (yang menemukan barang bukan miliknya). 

Saturday, 25 April 2015

Kerja Kerja Kerja

Orang-orang di sini banyak yang pakai lu-gua. Maka meskipun medok, ijinkanlah aku sekarang mencoba menulis dengan #jakartamodeon.

Hai...
gua adalah lulusan Teknik Sipil. Gua pingin cerita tentang kondisi gua sekarang ini.
Setelah sekian lama berjuang berlari mengejar mimpi, akhirnya gua sampai juga di mimpi. Mimpi ini lebih jelasnya, adalah berada di luar jangkauan bermanja-manja dan hidup yang masih juga ditanggung bapak dan ibu. Mimpi ini digapai melalui bekerja di sebuah pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM), sehingga saat ini gua terpisah jauh dari bapak dan ibu.

PLTM ini memiliki kantor pusat di ibukota Indonesia, Jakarta, sehingga awal diterima gua harus ke Jakarta dulu. Jauh meleset dari target, karena gua pinginnya bekerja di-mana-gitu yang pusatnya di Bandung atau kota dingin lainnya dan bukannya di Jakarta. Malas banget sama kota yang panas gitu. Selain itu karena sungguh deh kalau ada berita tentang Jakarta itu pasti tentang kejahatan, banjir, kalau nggak kemacetan.  Menurut gua tak lain semua masalah itu karena Jakarta yang sudah kelebihan penduduk. Nah udah kepenuhan, kenapa juga gua kudu juga kesana kan nambah-nambahin saja. Tapi yah sudah kepalang tanggung, udah diterima gini. Mungkin gua disuruh untuk menempa diri di kota besar lebih dahulu. Meskipun disini apa-apa ada nyari apapun nggak susah, tapi cukup keras juga dari segi persaingan kehidupan (kayaknya sih...). Lagian udah keturutan juga kan merantau, gaaassss.

Sudah sebulan lebih sejak gua mengawali perjalanan baru ini. Lima belas orang diterima bersama gua. Perempuannya hanya dua dengan gua, namanya Naya. Oiya gua diterima di PLTM ini melalui jalur engineering development program (EDP), semacam management trainee gitu sebutannya di beberapa tempat lain. Biasanya yang diterima di jalur demikian adalah yang diharapkan bisa menjadi petinggi di perusahaan tersebut untuk kedepannya.

"Git, jadi kamu calon petinggi di situ?"
"Harusnya sih gitu, tapi gatau deh. Dengar dulu penjelasan gua..."

Awal masuk kami diwajibkan mengikuti kegiatan yang telah diprogram oleh tim rekrutmen. Pertama adalah classical training. Kegiatan ini adalah pemaparan tentang apa saja yang perlu diketahui dahulu berkaitan dengan PLTM, desain bangunan sipilnya, elektro dan mesin-mesinannya yang gua gelap banget itu, sampai dengan segala peraturan dan budaya perusahaan tersebut. Lu bisa bilang ini semacam 'sekolah' gitulah hahah. Selama sepuluh hari, kegiatan kami berlangsung di Hotel Aston mulai pukul 08.30 sampai 17.30. Gua berangkat keluar rumah jam 5 pagi, pulang sampai rumah jam 9 malam. Berangkat gelap pulang gelap, seakan hidup hanya untuk kerja. Sedih. Tapi ada satu yang menghibur: sumpah makanannya enak-enak... 

Berawal dari classical training inilah gua mulai mengenal teman-teman yang 'seangkatan' dengan gua ini, juga senior-senior yang lebih dahulu bekerja di sana. Seluruh anak baru berjumlah 15 orang dengan rincian dua biji perempuan dan sisanya lelaki. Ada yang lulusan ITS, STT PLN, Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Mataram, ITB, dan UGM. Semuanya terhitung fresh graduate, karena meskipun ada yang sudah pernah bekerja tapi pengalamannya kurang nyambung sama pekerjaan-pekerjaan di sini.

formasi lengkap seangkatan ketambahan satu senior yang di tengah pakai baju biru jenggotan

Selayaknya sekolah, di classical training ini setiap selesai dijelaskan satu materi para 'siswa' dipersilakan untuk bertanya. Hari pertama gua ga nanya sama sekali. Gua semangat banget, tapi entahlah rasanya semua udah jelas (sinetronnnnn....). Hari berikutnya sampai hari terakhir gua udah mulai nanya-nanya, tapi nggak selalu. Beberapa waktu gua nanya hanya untuk pencitraan karena teman-teman pada nanya dan gua ga mau keliatan pasif sendiri. Jadilah seringkali pertanyaan itu nggak berbobot. Di situlah gua merasa ampas, seperti salah masuk kelas anak berbakat lalu gua bego sendiri karena yang lain otaknya jauh di atas gua-_-'. Kadang gua malu, karena bagaimanapun gua membawa nama Universitas Brawijaya (UB) di sini. Citra UB pastinya kelihatan ampas karena yang mereka lihat adalah Gita yang ampas gini... minder ah disini. Selain itu, untuk ilmu teknik sipil sendiri (halo halo ingat aku sarjana teknik sipil loh) yang banyak dipakai adalah sipil basah alias hitungan bangunan air lalala gitu. Buset itu jaman kuliah dulu paling nggak bisa, nggak merhatiin, dan gak konsen gua! Tapi nggak ada jalan lain selain terus melaluinya dan mencoba lebih baik dari hari ke hari. Sampai hari terakhir gua jalani semangat yang gua yakin lebih besar dari yang lain, tapi emang dasar Gita bawaannya ngantuk melulu-_-'. Inilah penyakit gua, ngantuk! Begitu duduk cepat atau lambat pasti ngantuk-__-". Kalau lagi sadarkan diri kadang mencatat pelajaran kadang juga cuma gambar-gambar atau nulis lirik lagu di kertas yang difasilitasi hotel. 

Kegiatan kedua yang diprogram perusahaan adalah kesemaptaan, untuk melatih kedisiplinan. Selama sepuluh hari juga kami ditempatkan di asrama perwira di Gunung Bunder. TNI-AD gitu pelatihnya. Bukan cuma berlima belas kali ini, tapi ditemani beberapa senior perusahaan. Ini sih kayak ospek kuliah dulu haha cuma lebih ringan dan lebih enak aja karena bisa tidur gitu di jam istirahat, begitu pun untuk makannya. Nasi, ikan, sayur, lengkap dengan minuman dan buah (jauh lebih baik dari nasi teknik yang cuma nasi, tempe, tahu, telur rebus, dan timun doang-_-). Senang banget gua di sana, pemandangannya terutama yang bikin senang. Kalau pagi gitu siluet Gunung Salak sejuk banget. Hijaunya mengingatkan gua akan sesuatu. Waktu mendung juga, Gunung Salak meneduhkan untuk dilihat.

Cari Dekati Hancurkan

Kembali ke Jakarta dari Gunung Bunder kami diberi waktu lima hari sebelum mulai on the job training (OJT), kegiatan training yang ketiga, ke proyek-proyek yang sedang dikerjakan. Ada juga sih yang training di kantor dulu (ada jadwalnya kok, kami ga bakal cuma training di satu lokasi saja). Lima hari itu mulai Kamis sampai dengan Senin, tapi ikutan masuk kantor saat hari kerja (Sabtu Minggu libur). Kami para anak baru ini sebenarnya baru efektif bekerja pada tanggal 1 April. Nah untuk lima hari--tiga hari kerja--sebelum 1 April itu kegiatan di kantor kami ini semacam diskusi gitu...
diskusi...
diskus...
disku...
disk...
dis...
di...
d...
...
Hell, inilah neraka bumi. Halooo, gua ini paling nggak bisa bicara di forum diskusi resmi apalagi dengan dasar ilmu yang gua masih belum percaya diri begini. Mendengar kata 'diskusi' aja sudah cukup bikin gua ingin lari ke pantai. Sebelum forum dimulai badan gua asli panas dingin, Saat forum dimulai gua pasif, Setelah forum diakhiri gua ditegur kepala suku HRD: "Gita, kamu tuh harus bisa ngomong ya..." Bubar semua isi perut.

Lalu hari berikutnya sama aja. Gua tetap pasif saat diskusi, sangat pasif diantara teman-teman gua yang saling sahut berpendapat. Ngomong sih sekali, itu juga ga jelas gua aja ga ngerti barusan ngomong apa. Makin minder. Gua hanya berharap agar hari itu cepat berakhir...

Sampai akhirnya hari itu bukan hanya berakhir, tapi sudah berlalu hingga hari ini. Malam ini, gua sudah beratus kilometer dari ruang rapat tempat kejadian diskusi neraka itu untuk mengikuti kegiatan selanjutnya yaitu OJT. Gua lagi di mes alias tempat tinggal yang disediakan perusahaan untuk gua dan ketiga teman gua. Lokasinya ya di proyek itu juga. Buka jendela udah bisa lihat pipa-pipa sebesar dinosaurus.

Proyek ini di hutan gitu, suatu daerah yang gua rahasiakan di kaki Gunung Halimun. Kurang lebih sejam seperempat dari kota, setidaknya itulah tempat paling ramai yang bisa disebut kota. Sinyal gak ada disini, adanya segaris senja yang ketutup pohon-pohon pegunungan. Uh serius, Allah emang paling tahu tempat-tempat terbaik di negeri ini~

skema sederhana alur PLTM
sumber: https://dreamindonesia.wordpress.com/tag/komponen-pltmh/
OJT di sini gua setiap harinya diharuskan untuk menjangkau seluruh lokasi pekerjaan mulai dari hulu hingga hilir. Namanya juga masih pleatihan, harus tahu kesemuanya dulu (oh iya sekedar info singkat bahwa bangunan utama PLTM itu ada empat yaitu bendung, waterway, pipa pesat, dan powerhouse. Hulu adalah bendung sampai dengan setengah waterway, hilir adalah waterway selanjutnya sampai powerhouse). Gua ga sampai hulu sih tiap hari jalannya, karena cukup jauhlah kalau ditempuh dengan jalan kaki. Palingan seminggu sekali. Kalau ditempuh naik mobil sejam ada, dengan jalanan yang beberapa titiknya masih galian tanah yang kayak coklat toblerone leleh. Ada juga jalannya yang tanah lalu dikasih pecahan batu-batu agak besar begitu, jadi kalau dilewati bikin kita goyang-goyang fleksibel. Efek lain mungkin kita merasa tenggorokan ini loncat-loncat sampai keluar dari rongganya. Entah nyata atau tidak, tapi itulah yang gua rasain.

Langit biru awan putih terbentang indah lukisan yang kuasa 

 Ini proyek kan di Jawa Barat yah, gua kira sebulan di sini gua akan lancar dengerin orang berbahasa sunda. Tapi ternyata gua salah, karena banyak banget orang jawa di sini. Jadi dari segi pengetahuan akan bahasa ternyata gua tidak berkembang haha-_- Padahal mimpi gua banget tuh bisa menguasai beragam bahasa di Indonesia.

(dari kiri yang pakai kaos Iron Man) Gita, Aby, Naya, dan Agil 

Secara keseluruhan orang kerja di sini dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu owner atau pemilik proyek sekaligus pengawas (itu dari perusahaan gua), kontraktor, dan pelaksana install pipa pesat. Proyek di manapun pasti pengawas musuhan sama pelaksana, di sini juga begitu. Namun meskipun bermusuhan, ada satu hal kesamaan mereka semua: SUKA NYARI BATU AKIK. Tua muda sama aja sumpah heran gua. Lihat aja jarinya semua pada pakai cincin zzzzz.
Kubu owner memiliki empat orang anak training yaitu gua sendiri dengan tiga orang yang sesama EDP, perkenalkan mereka adalah Agil, Naya, dan Aby. Ketiganya adalah remaja lu-gua. Seniornya ada tujuh orang, mulai dari admin, supervisor sampai manajer atau semacamnya. Semua umurnya di atas gua. Ada yang sepertinya seumuran dengan bapak gua. Nah nah nilah yang bikin gua heran hidup di sini. Rasa aneh tapi nyata. Itu orang yang seumuran bapak pastilah kalau di Malang adalah teman bapak gua. Tapi di sini dia adalah teman gua. Aneh sumpah aneh.

Teman kerja paling trendi

Seperti yang telah gua jelaskan di atas bahwa OJT ini gua tinggal di mes. Setiap harinya rutinitas yang dilakukan kayaknya sama aja setiap harinya. Jamnya doang yang bergeser-geser haha. Bahkan hari Sabtu dan Minggu pun sama, masih kerja juga, karena memang tidak ada libur. Rasanya kaya ngikut apa kata Dahlan Iskan: KERJA KERJA KERJA!  Menu makan pun begitu, rasanya sudah menjadi rutinitas untuk makan nasi goreng pagi hari, mie dan telur siang hari, malamnya ikan goreng. Gak gitu juga sih mungkin perasaan aja, tapi memang itu yang sering muncul. Kadang kala Naya atau seorang senior ada yang merasa bosan dengan menu itu, mereka memilih untuk tidak makan atau sekedar ngemil makanan ringan yang mereka punya. Tapi gua ngga. Gua gatau dilahirkan Sang Ibu dengan cara apa, tapi gua jadi orang yang selalu doyan makan apapun. Meskipun menunya itu-itu aja, tapi gua sih oke aja. Lebih lagi gua ini doyan sekali sama apapun jenis mie, alhamudulillah malah di sini seringnya makan mie. 

Banyak yang gua pelajari di OJT ini, baik ilmu sipil di lapangan maupun soft skill. Gua biasanya ngomong suka ngasal, gua belajar untuk lebih berwibawa, tertata, dan dewasa karena gua rasa usia segini sudah gak waktunya gua ngasal terus. Bagaimanapun gua juga adalah cerminan perusahaan, kalau salah ngomong bisa dikira seisi perusahaan orangnya sinting semua wkwkwk. Sekaligus, mungkin beberapa orang pasti mengingat gua ini lulusan mana kuliahnya dulu. Sudah cukup yah nama UB terlihat ampas karena guanya ampas di kantor (saat forum diskusi), gua ga pingin di sini juga demikian. Gua mencoba menjadi lebih baik setiap harinya. 

Gua menemukan kenyamanan hidup selama bekerja di proyek di hutan-hutan begini dengan medan yang naik berbukit-bukit dan bisa gua daki setiap hari. Pekerjaan ini pun sesuai sekali dengan yang gua bayangkan saat gua melamar pekerjaan ini dulu. PLTM gak akan mungkin dibangun di tengah kota yang dekat dengan kehidupan masa kini. Pastilah di hutan, dekat dengan sungai, dan kalau hujan gua bisa menikmatinya bersama pepohonan hijau. Ah pokoknya lepas OJT gua pingin kerja di hutan gini saja deh~

How can i didnt love my job?

Tetapi perjalanan gua masih cukup panjang dan mengkhawatirkan untuk mencapai 'hutan' yang sebenarnya, kalau dipikir-pikir. OJT bulan depan gua di kantor selama satu setengah bulan, malas banget. Kerja di kantor asli gak menarik, banyak duduk pastilah bikin ngantuk. Apalagi kantor di Jakarta. Yah Jakarta lagi Jakarta lagi. Bagian tergawat adalah kinerja gua akan dinilai di kantor nanti, lalu dibandingkan dengan di lapangan untuk menentukan selepas OJT gua akan ditempatkan di proyek atau di kantor. Gua takutnya gua kelihatan rajin di kantor sampai dianggap lebih bagus dibanding dengan kerja di lapangan. Rencana sih gua pengen malas-malasan di kantor nanti. Tapi gua juga ngeri kalau malas gua itu terlalu, sehingga gua dipecat. Gawat juga.

Sepertinya tidak ada yang lebih baik yah selain memaksimalkan diri di lapangan maupun di kantor. Bagaimanapun bekerja itu kan juga ibadah yah, baru ingat gua. Sama seperti sholat, harus berjuang menjadi yang terbaik demi diri sendiri. Kayanya sih doanya aja ya yang kudu dikencengin, minta aja sama Allah biar ditemparin di proyek wkwkwk. Sejauh ini hanya itu sih yang kepikiran untuk bisa gua lakukan, sambil menikmati suara hujan yang tak kunjung berhenti dari pagi.

#jakartamodeoff








ijin mengeluh:
(Jakarta itu gedung-gedungnya terlalu tinggi, nutupin bulan aja)


Sunday, 14 September 2014

After Graduate

Ada berita baik yang telat untuk di publikasikan dalam internet: beberapa waktu yang lalu, aku sudah dinyatakan lulus. Iya, jadi ST. Sarjana Terdampar. Muahahaha

Ah seriusan kok tapi. Sekarang di belakang namaku ada ST-nya haha. Alhamdulillah.

"Git selamat yaaaaa!" 
"Y."

Setelah melewati lika-liku pengerjaan skripsi yang membosankan dan menjemukan, lega banget rasanya sudah lulus. Nggak ada lagi ngerjakan tugas dari pagi sampai pagi, nggak ada lagi bayar SPP, nggak ada lagi fotokopi rangkuman temen buat kuis, nggak ada lagi H2C nyari dosen, dan lainnya. Pokoknya setiap hari itu Minggu deh. Bayangkan! Betapa ahzeg~
Tapi kawan, disisi lain ternyata kelulusan ini memunculkan sisi tidak enak buatku, yaitu tidak lagi mendapat uang saku dari bapak. Iya, semenjak yudisium si bapak entah lupa atau emang sengaja, jadinya ngasih sangu cuman 3 hari sekali gitu. Padahal biasanya harian, sekitar 20,000 begitu :( Yah meskipun setelah lulus juga jarang sih keluar rumah, sehingga pengeluaran juga semakin hampir tidak ada karena makan juga pasti di rumah. Tapi sungguh aneh ya nggak megang duit sama sekali.

Hari demi hari berlalu, si bapak malah semakin parah dalam tidak memberi uang saku huakakaka. Okelah, Bapak, aku anggap ini tantangan! Mengingat gelar sarjana sudah diraih, akhirnya gua (diucapkan dengan logat anak jawa barat yang gaul) memutuskan untuk mencari uang sendiri dengan magang sajalah di perusahaan-perusahaan kecil di Malang, biar sesuai bidang kuliah gua pilih pemborong atau konsultan gitu. Ah ya, selain karena ingin uang saku aku juga merasa "setiap hari adalah hari Minggu" itu lama-lama bikin bosan juga. Kegiatan gak jelas, panggilan tes kerja juga baru sekali itupun gagal di tes pertama, aneh bangetlah gak punya kerjaan gini. Lama kelamaan aku juga takut ilmuku yang sudah limit ini menguap. Udah bego, lupa pula. Gawat banget!
Kemudian dengan mengingat dan menimbang beberapa perusahaan yang aku tahu, pada akhir Agustus pun aku mengajukan lamaran ke CV. Sumber Alam Perkasa. Ini kepala sukunya Pak Zainal namanya, bapaknya teman aku, dan istri dia juga teman arisan ibuku. Tapi aku kesana ngelamarnya bukan atas nama teman anaknya atau anak teman istrinya. Tapi sebagai Filliyani Sagita, ST. Sarjana Tolol yang pengen punya duit sendiri dan ingin mengembangkan ilmu :) Alhamdulillah sekali bapaknya kebetulan lagi butuh anak Sipil, jadilah seminggu setelah lamaran diajukan aku bisa langsung kerja situ. Sebenarnya aku bisa aja sih ngelamar ke bapakku sendiri, berhubung si bapak ini konsultan. Tapi yah kantornya di rumah, nah kalau kerjanya di rumah aja pasti suasananya gitu2 aja. Bikin ngantuk -_-

Sekarang sudah tanggal 14, hampir sudah setengah bulan aku magang di SAP ini terhitung sejak 1 September hari pertamaku magang. Di SAP cuma ada tiga pegawai, yaitu aku, Mas Negara dan Mala. Mala ini bagian administrasinya gitu, sementara Mas Negara adalah arsiteknya. Dua orang ini gilanya cocok jadi bikin betah hahaha padahal biasanya aku butuh adaptasi lama banget dengan orang baru.

Tapi meskipun menemukan teman kerja yang nyaman aku nggak lantas ingin terus bekerja di SAP. Aku masih ingin bekerja keluar kota Malang, keluar Jawa Timur, atau kalau bisa aku pingin banget keluar Jawa. Sambil melihat negeriku yang cantik ini, sambil merantau.

Untuk semua teman yang sedang mencari-cari kerja, semangat ya kawan. :D

Monday, 21 January 2013

Tumben Jakarta Banjir Air

Biasanya kan banjir artis...

Seperti kebanyakan orang lainnya, gatel juga ya nggak komentar soal banjir Jakarta. Pertamanya aku ketawa dan senyum-senyum loh lihat banjir itu. Lihat di TV Jakarta yang biasanya dipandang dari atas berderet-deret kendaraan, kali ini warnanya coklat. Apa tuh? Yang jelas itu bukan susu Ovaltine meluber dari pabrik, ya itulah air bah. Air campuran pipis, luapan sungai, jamban, de el el zzzzzzz. Tapi pas lihat di TV di-shoot para pengungsi yang kesulitan MCK, ada orang kejebak di perkiran bawah gedung, aiiiiiih miris banget lihatnya.

Parkiran Plasa UOB mirip banget Tsunami. Syerem banget oh, Tooooong!


malah dipakai bule piknik! dikira kolam susu betulan kali.
misal yang coklat itu bukan air banjir tapi tanah, masihkah banjir?
asiknya rame-rameeeeee
Kalau lihat di berita-berita si, katanya Banjir di Jakarta itu sudah biasa. Tapi kok mereka pada ngeluh, katanya udah biasa? Atau sebetulnya mereka malah doyan tiap tahun rumahnya jadi kolam susu abal-abal begitu?


kalau banjirnya ini beneran mau dong ya :3
Banyak banget penyebab banjir Jakarta itu, kalau diurai satu-satu bakal panjang banget penjelasannya. 6 km ada kali. Meskipun demikian setau aku kenapa Ibu Kota bisa begitu salah kaprah adalah karena: 1) Pemerintah. Sebagai yang bisa memerintah dan bikin aturan kan yang punya kota, nah mereka bapak-bapak ini dari awal kurang tegas. Sudah dari jaman dinosaurus duluuuu banget. Makanya rakyatnya jadi ngook banget, tidak ada kesadaran dari diri sendiri. Maksudnya, harusnya bapak yang punya kota itu punya peraturan yang tegas gitu loh tentang membuang sampah harus dimana, sampah basah kering dipisah nggak buangnya, trus kalau kita buang sampah tidak di tempatnya ada nggak dendanya yang bikin jera (push up misalnya, sekalian biar masyarakatnya tidak ada yang obesitas hohoho), aturan tentang membangun rumah, dll. Memang awal-awalnya bakal dilaksanakan dengan terpaksa, tapi kan lama-lama juga terbiasa. 2) Penduduk Kota Jakarta. Sudah pemerintahnya nggak bikin aturan, jadilah pola pikir penduduk itu salah. Turun-temurun pula. Padahal mereka ini kan sebetulnya pemeran utama penjaga lingkungan, bukan pasukan kuning loh! Karena Penduduk nggak merasa punya aturan, yang salah jadilah kerasa benar. Selain itu sudah jelas kesadaran dirinya nggak ada. Maksudnya, di sekolah pasti diajarkan kan cara menjaga lingkungan, efeknya kalau lingkungan begini begitu jadinya banjir ini itu, tapi ya itu karena nggak ada kesadaran...... Giliran sudah banjir gini bisanya ngeluh-ngeluh. Iuuuuuh! 3) Tumpukan Dosa! Yap sebagai orang yang tau agama (dikit!), aku si lihatnya Jakarta tuh banyak dosa tauk. Mangkanya Allah mencuci itu orang-orang penuh dosa. Meskipun air buat pencucinya kotor, tapi air itu lebih bersih dari manusia itu sendiri. Bagi aku tayangan-tayangan di TV itu cerminan dari kehidupan sehari-hari penduduk Jakarta, karena sutradara sama penulis skenarionya kan dari sono situ.

banyaaaaaaaaaaaaaak!


Sebetulnya sebab lain masih ada, cuma bagi aku karena Kota Jakarta bukan ada dengan sendirinya: Kota itu dibangun, dinamai, ditata, dikelola, dan dikembangkan oleh manusia. Jadi kalau ada salah-salah sampai akibatnya kayak begini, ya yang salah manusianya. Semua kembali ke manusia. Semua kesalahan manusia. So, buat yang masih ngerasa manusia, jangan bisanya nyalahin petinggi-petinggi aja. Di TV, twitter, banyak banget aja yang protes:

"Bupati baru mana janjimu!"
"Bupati baru katanya bebas banjir, mana!" 
"Bupati baru inget ga kemarin ngomong apa!"
"Bupati baru nggak sesuai janji banget, mending balikan sama bupati lama!" *emangnya CLBK!*
"Bupati baru pulangkan saja aku pada ibuku... atau ayahku!"  

Heh orang-orang gak waras, dikira nyulap Jakarta tuh cuma butuh sejam apa! Yang bisa begitu tuh cuman Avatar. -____-"

Air nggak pernah menyalahi aturannya, justru nyeremin kan kalau misal air mengalir dari tempat rendah ke tinggi. Air memang nggak akan pernah mengerti manusia, kitalah yang harusnya mengerti mereka. Ok!


================================================================
Air ingin mengalir, manusia menghalangi.
Terjadilah banjir.
ttd: Ranindra
================================================================


Semoga bisa jadi koreksi diri. Mohon maaf kalau ada kata-kata atau pendapat yang kurang berkenan, karena manusia tempatnya salah dan lupa. Sempurna hanyalah milik Andra and The Backbone (kata Cak Soleh.....).

sumber gambar: