Showing posts with label gosip terlarang. Show all posts
Showing posts with label gosip terlarang. Show all posts

Tuesday, 22 January 2013


Dulu:
aku masih padat,
meski hanya kau anggap setengah bagian kenyataan
 Sekarang:
Seperti mayat yang hangus terbakar api 
kau masih bisa melihatku, tapi tidak mengenali.

Monday, 21 January 2013

Tumben Jakarta Banjir Air

Biasanya kan banjir artis...

Seperti kebanyakan orang lainnya, gatel juga ya nggak komentar soal banjir Jakarta. Pertamanya aku ketawa dan senyum-senyum loh lihat banjir itu. Lihat di TV Jakarta yang biasanya dipandang dari atas berderet-deret kendaraan, kali ini warnanya coklat. Apa tuh? Yang jelas itu bukan susu Ovaltine meluber dari pabrik, ya itulah air bah. Air campuran pipis, luapan sungai, jamban, de el el zzzzzzz. Tapi pas lihat di TV di-shoot para pengungsi yang kesulitan MCK, ada orang kejebak di perkiran bawah gedung, aiiiiiih miris banget lihatnya.

Parkiran Plasa UOB mirip banget Tsunami. Syerem banget oh, Tooooong!


malah dipakai bule piknik! dikira kolam susu betulan kali.
misal yang coklat itu bukan air banjir tapi tanah, masihkah banjir?
asiknya rame-rameeeeee
Kalau lihat di berita-berita si, katanya Banjir di Jakarta itu sudah biasa. Tapi kok mereka pada ngeluh, katanya udah biasa? Atau sebetulnya mereka malah doyan tiap tahun rumahnya jadi kolam susu abal-abal begitu?


kalau banjirnya ini beneran mau dong ya :3
Banyak banget penyebab banjir Jakarta itu, kalau diurai satu-satu bakal panjang banget penjelasannya. 6 km ada kali. Meskipun demikian setau aku kenapa Ibu Kota bisa begitu salah kaprah adalah karena: 1) Pemerintah. Sebagai yang bisa memerintah dan bikin aturan kan yang punya kota, nah mereka bapak-bapak ini dari awal kurang tegas. Sudah dari jaman dinosaurus duluuuu banget. Makanya rakyatnya jadi ngook banget, tidak ada kesadaran dari diri sendiri. Maksudnya, harusnya bapak yang punya kota itu punya peraturan yang tegas gitu loh tentang membuang sampah harus dimana, sampah basah kering dipisah nggak buangnya, trus kalau kita buang sampah tidak di tempatnya ada nggak dendanya yang bikin jera (push up misalnya, sekalian biar masyarakatnya tidak ada yang obesitas hohoho), aturan tentang membangun rumah, dll. Memang awal-awalnya bakal dilaksanakan dengan terpaksa, tapi kan lama-lama juga terbiasa. 2) Penduduk Kota Jakarta. Sudah pemerintahnya nggak bikin aturan, jadilah pola pikir penduduk itu salah. Turun-temurun pula. Padahal mereka ini kan sebetulnya pemeran utama penjaga lingkungan, bukan pasukan kuning loh! Karena Penduduk nggak merasa punya aturan, yang salah jadilah kerasa benar. Selain itu sudah jelas kesadaran dirinya nggak ada. Maksudnya, di sekolah pasti diajarkan kan cara menjaga lingkungan, efeknya kalau lingkungan begini begitu jadinya banjir ini itu, tapi ya itu karena nggak ada kesadaran...... Giliran sudah banjir gini bisanya ngeluh-ngeluh. Iuuuuuh! 3) Tumpukan Dosa! Yap sebagai orang yang tau agama (dikit!), aku si lihatnya Jakarta tuh banyak dosa tauk. Mangkanya Allah mencuci itu orang-orang penuh dosa. Meskipun air buat pencucinya kotor, tapi air itu lebih bersih dari manusia itu sendiri. Bagi aku tayangan-tayangan di TV itu cerminan dari kehidupan sehari-hari penduduk Jakarta, karena sutradara sama penulis skenarionya kan dari sono situ.

banyaaaaaaaaaaaaaak!


Sebetulnya sebab lain masih ada, cuma bagi aku karena Kota Jakarta bukan ada dengan sendirinya: Kota itu dibangun, dinamai, ditata, dikelola, dan dikembangkan oleh manusia. Jadi kalau ada salah-salah sampai akibatnya kayak begini, ya yang salah manusianya. Semua kembali ke manusia. Semua kesalahan manusia. So, buat yang masih ngerasa manusia, jangan bisanya nyalahin petinggi-petinggi aja. Di TV, twitter, banyak banget aja yang protes:

"Bupati baru mana janjimu!"
"Bupati baru katanya bebas banjir, mana!" 
"Bupati baru inget ga kemarin ngomong apa!"
"Bupati baru nggak sesuai janji banget, mending balikan sama bupati lama!" *emangnya CLBK!*
"Bupati baru pulangkan saja aku pada ibuku... atau ayahku!"  

Heh orang-orang gak waras, dikira nyulap Jakarta tuh cuma butuh sejam apa! Yang bisa begitu tuh cuman Avatar. -____-"

Air nggak pernah menyalahi aturannya, justru nyeremin kan kalau misal air mengalir dari tempat rendah ke tinggi. Air memang nggak akan pernah mengerti manusia, kitalah yang harusnya mengerti mereka. Ok!


================================================================
Air ingin mengalir, manusia menghalangi.
Terjadilah banjir.
ttd: Ranindra
================================================================


Semoga bisa jadi koreksi diri. Mohon maaf kalau ada kata-kata atau pendapat yang kurang berkenan, karena manusia tempatnya salah dan lupa. Sempurna hanyalah milik Andra and The Backbone (kata Cak Soleh.....).

sumber gambar: 

Friday, 28 September 2012

Kebelet Boker (Penderitaan Paling Nyata)

Boker/beol/pup/ngeseng/b-a-b/e-ok adalah beberapa kata yang punya arti sama: buang hajat besar. Terjadinya memang cuma bisa di kamar mandi (bagi orang yang sadar lingkungan si begitu), tapi kebeletnya? Bisa dimana aja! Iya, gak peduli sedang di gurun pasir, di Bulan, di Neverland, di jalan macet, atau bahkan ketika kita masih di dalam perut buaya sekalipun kita bisa aja merasakan kebelet boker ini.
Sebetulnya perasaan seperti ini sungguh manusiawi, dalam artian kalau kita nggak bisa kebelet berarti kita nggak sehat dan bisa digolongkan sebagai zombie gituuu. Tapi kan nyebelin juga kalau kita kebeletnya di tempat-tempat yang nggak menyediakan tempat buat boker, seperti di Bulan itu tadi. Masa iya kita mau boker di sana terus eek kita muter-muter di udara gitu. Kan nggak sopan juga sama yang kebetulan lagi sarapan di Bulan situ. Atau pas di Neverland, negeri yang semua orang di sana tuh pada nggak mau dewasa. Kalau kita kebetulan nyasar kesana dan nanya 
"Mas maaf, kamar mandinya dimana ya? Saya kebelet boker banget banget nih."
"HAH KOK DIPANGGIL MAS? BUKANKAH AKU MASIH NAMPAK SEPERTI ANAK KECIL? MASA SIH AKU UDAH KERIPUT? "
"Eh iya adek maaf, oke jadi di mana ya kamar mandinya? Pehlis sudah kiwir-kiwir nih" :S
"Kamar mandi? Err disana sih (nggak jelas disana itu dimana), tapi masih antri kayaknya deh jadi main halma dulu yuk. Eh aduh tapi halmanya tadi keinjak gajah lewat hik..hik...HUWEEEEEE!!!!"
"Eh jangan nangisssss, kamar mandinya dimanaaaa????"
Bisa dibayangkan betapa repotnya bertanya pada manusia-manusia anti dewasa di Neverland, udah ditanya jawabnya gak jelas, kita malah diajak main dan ujung-ujungnya malah mereka nangis zzzzzzzz.
Kemudian kalau pas jalan macet dan kalian sedang berada di dalam salah satu kendaraan yang lagi macet itu. Oh-my-goat! Percayalah ini yang terburuk! Aku pernah merasakannya, pemirsa. Gentong, apakah ini menyiksa? YEAAAH JELASSS! Sampe sekarang horornya masih terasa, you know!
Jadi waktu itu kan lagi perjalanan ke Jakarta, Tangerang sih sebetulnya. Itu jalanan jam 10-an kalau nggak salah, macet sih nggak terlalu tapi ya padat merayap gitu lah. Tapi kan tetap aja jalannya jadi lamaaaaa. Sementara pak supir bis dengan sabarnya nyetir, dia nggak pernah tahu dia punya penumpang yang mukanya sudah ungu nahan beol. Iya, dia ini supir yang nggak perhatian banget, padahal aku ini duduk di belakang dia passsss loh. Aku lupa malamnya aku tuh makan apa, kayaknya si normal gitu. Betul-betul deh, itu pagi-jam-10 terhoror yang pernah aku alami, diantara jalanan yang runyam, guweh kebelet boker, dan tidak ada solusi untuk membuat kebelet itu menghilang. SUMFVAH.
Menit demi menit berlalu, nggak nyampe-nyampe sih ini kampret! Kemudian dengan segenap sisa tenaga ngeden yang belum terpakai, aku bilang ke pak kernet, "Pak ini apa masih lama ya? Saya kebelet boker banget. Minta tolong berhenti di pom gitu nggak bisa kah, Pak?" (MUKA NGEDEN WARNA UNGU, POKOKNYA KAYAK KUDA NIL BANGET!) 
Oh meeeen, betapa tidak berperasaannya pak kernet, dia menjawab SAMBIL SENYAM-SENYUM-SENYIM, "bentar lagi, sejam lagi nyampe kok mbak." 
UWOOOOOH WADEFAK DAMSHIT, sejam lagi? -_______-" Itu eek mungkin udah naik lagi ke mulut dan bisa aku jadikan sarapan kali, Pak! Pehlis, gak tahaaan! Aku memang sudah mengira kalau jawabannya bakal nggak boleh, karena ya nggak mungkin banget demi satu aja penumpang kedatangan bis molor. Tapi masa siiih dengan keadaan yang udah sekarat boker gini nggak ada kasian-kasiannya! Oke yaaa jadi kalau aku kelepasan boker disini gak papa nih, Pak? Baunya bisa ngerusak ekosistem loh, gak apa nih? Errr tapi malu juga sih :| Yaudah gak jadi deh.
Tapi memang Allah nggak pernah memberi cobaan yang tidak bisa kita selesaikan yak, ha! Bapak aku baru aja memberi saran: gimana kalau boker di kamar mandi bis yang di belakang ntu? 
AHA! Sebetulnya aku tadi sempat kepikiran sih, tapi kok katanya gosip di dalamnya kloset situ nggak ada airnya yak. Tapi karena udah rada ga peduli sama ada air atau enggak, bukan salahku juga kalau misal bis jadi bau menyan gara-gara aku boker di kloset yang nggak ada airnya habisnya nggak mau berhenti sebentar doang sih di pom gitu.
Oke, akhirnya ane boker di sana sambil goyang-goyang (karena bisnya gerak-gerak sih). Selesai dan...... legaaaaaaaaa yeyyyyyyyy serasa hidup kembali! Hawakakakakak chibi-chibi~~
Itu tadi pengalaman terburuk ngempet boker sudah dua bulan yang lalu, tapi hari ini tadi aku diingatkan kembali olah Riris, salah seorang anak berbakat yang juga ngempet boker di kampus. Huakakakakaka! Ketawa sih, tapi kan kasian juga soalnya aku pernah tuh ngempet boker yang bener-bener atit gitu. Sebetulnya Riris ini bisa kok boker di kampus, cuma kamar mandi yang di gedung kuliah sudah pada di tutup, tinggal yang 'agak jorok' di BEM Teknik.

jangan tertipu dengan mukanya yang tumikos, dia ini sedang kebelet boker!

menggenggam batu bukanlah solusi, Riris! Kau cuma lari dari kenyataan. 

Dia jelas nggak mau! Seperti kebanyakan orang, jijay gitu kalau nggak di rumah sendiri bokernya. Kalau aku sih alhamdulillah enggak begitu ya -___-" dibesarkan di kandang babi membuat diriku biasa aja sama yang jijay-jijay jhahaha. 
Aduh padahal nggak tega deh ngeliat Riris, dibeliin sabun tetep aja nggak mau boker di kampus.


Pesanku buat ibu-ibu yang bakal melahirkan generasi-generasi penerus: tolong ya ibu-ibu. Boleh-boleh saja kita mengajarkan untuk hidup bersih, tapi ajarilah juga untuk melihat kondisi. Terutama saat kebelet boker banget begini, kesian anaknya nanti kalau terlalu bersih juga. Bisa mati ngempet boker.  

Saturday, 11 August 2012

I just don't know why i write this

Tulisan kali ini serius dan sangat sinteron (17+)

Semuanya harus diperjelas dengan:
Sebenarnya kenapa ini jadi masalah ya? 
Buat apa aku mempermasalahkan ini ya? 

Sebelum semakin tidak mengerti, harus dulu diperkenalkan tokoh-tokoh tanggal 10 Agustus waktu itu, ada satu yang namanya sebut saja 66, satunya adalah Envy. Ini nama samaran semua, supaya bisa misterius hihihi. (Nama-nama samaran  disini supported by Fullmetal Alchemist).

Envy adalah perempuan bermental baja. Otak dan kepala dia juga ajaib, semacam terbuat dari batu, meskipun dari luar dia normal, langsing, dan cantik. Dia ini semacam aku juga, gagal berpindah ke lain jiwa a.k.a move on. Sebut saja laki-nya ini Gluttony. Envy dan Gluttony ini sudah cerai sejak tahun lalu bulan Oktober kalau tidak salah (aku september :p). Envy ini kurang tahu kenapa sampai sekarang masih sangat suka sama Gluttony. Ini aneh dan tidak wajar! KENAPA? KARENA....... Gluttony sering banget ngomong kasar sama Envy. Tidak cuma kasar biasa, selalu bawa-bawa hewan kalau ngomong sama Envy, yang paling favorit itu kambing. Pernah pas ngerjakan tugas bareng di gazebo sebelah himpunan, mereka tengkar karena si Envy selalu aja motong omongan Gluttony, padahal Gluttony sedang badmood. Gluttony marah-marah, Envy dihina-dina, sampai nangis-nangis parah banget. Kejadian lain pemicunya apa aku lupa, yang jelas Gluttony kalau marah selalu seperti itu dan Envy juga yang selalu mengejar-ngejar Gluttony (sulit menekankan dimana menyebalkannya melihat Envy mengejar Gluttony terus-terusan, mungkin kalian harus lihat live). Mungkinkah ini pelet? Yes, entahlah Squidward. Pada intinya, Envy nampak amat tolol buat semua orang. Karena: Dia perempuan! Tapi dia terus-terusan mengejar padahal sudah diperlakukan sangat tidak pantas sama Gluttony. Tapi dasar otak batu, siapapun tidak bisa membuat Envy sadar. Orang tuanya sekalipun. 

Cukup kenalannya sama Envy, sekarang terbang menuju tanggal 10 Agustus. TKP adalah ruang dosen, waktu itu ada 66, Envy, aku, dan satu lagi figuran yang tidak perlu disebutkan. 66 dan Envy ini sedang ribet menghitung IPK. Yang 66 menghitung punya sendiri memang, tapi ternyata Envy ini meributkan punya Gluttony. Iya, jadi si Gluttony ini pulang mudik gitu dan KRS dia titipkan sama Envy.
Tapi Envy juga sedang bingung. Jadi jumlah sks mata kuliah wajib semester depan itu ada 20. Tapi dengan IP 3 lebih, dia ini kepingin nambah mata kuliah supaya jadi 24 sks, cuma bingung ambil apa. Lalu kubilang: 
"Buat apa nambah? Gluttony is your last subject, isn't he? Dia kan 4 sks buat kamu, lengkap kan kamu udah 24 sks. Hahaha....."
Lalu 66 menimpali: 
"Iya, kau itu kalau dinilai buat Mata Kuliah 'FAITH FOR Gluttony' bakal dapat A kok, nih Gita cuman dapat C hahahaha!" 
:O :O :O IT'S SO SURPRISE ME!  Aku tahu ini ranahnya sedang becandaan, tapi #JLEBJLEBCROOOOOOOT dan jadi kepikiran deh :|
Ternyata bagi teman-teman, aku pantasnya cuma dapat C di Mata Kuliah 'FAITH FOR SUAMI ORANG', dan Envy dapat A, sodara-sodara....

Tapi sekali lagi......
Sebenarnya kenapa ini jadi masalah ya? 
Buat apa aku mempermasalahkan ini ya?
Bukannya memang NILAI itu yang bisa membuat orang lain? 
Kalau memang aku cuma dapat C, lalu kenapa? Big problem?
Kok aku jadi suram begindose? 

Aku sempat protes memang, tapi nggak mau cerita banyak karena semakin banyak aku cerita semakin keingat-ingat dan mengharapkan suami orang. Tapi kataku dalam hati, kok bisa aku dinilai cuma C. GAK TE RI MA! Padahal aku juga masih ada rasa kok sama suami orang, sumpah masih ada. Cuma aku nggak menunjukkan saja ke kalian bertiga. Kalian aja yang tidak tahu tapi sok tahu, sok menilai aku cuma C. Masih ada kok perasaan, masih ada, sangat ada...
Masa aku harus benar-benar nampak 'mengejar suami orang' kayak Envy sih supaya kelihatan masih ada rasa? Membuntuti dia kemanapun dia pergi, ngemis-ngemis ngajak makan bareng, menolak makanan apapun kalau bukan dia yang mengulurkan? Tapi buat apa juga ya kalian lihat, kayaknya aku bakal nampak tolol juga deh...

Lagi bukannya, 
(katanya) tiap orang punya cara beda-beda cara mencint..... yah itu deh, malas nulisnya
Katanya, sebenarnya, yang terlihat 'biasa-biasa' saja, justru biasanya perasaannya lebih dalam
Memangnya tidak boleh yak, aku kayak puisinya AADC yang di blog-nya Nindot ini:  
Aku Ingin
“Aku igin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
oleh Sapardi Djoko Damono

Kata Nindot: puisi yang cukup singkat, tapi penuh makna, menurutku.
bahwa terkadang seseorang ingin mencintai dalam diam, sebagaimana dia menganggap bahwa diam adalah kesederhanaan yang paling mulia
 Aku merasa kayak gitu, karena sudah tidak pernah lagi benar-benar menawarkan bantuan ke suami orang meskipun sebenarnya ingin, meskipun sebenarnya aku selalu tahu suami orang sedang butuh bantuan atau harus diingatkan. Aku menunggu suami orang yang datang lebih dulu waktu suami orang butuh, waktu suami orang mencari seseorang yang bisa bantu dia. Karena kalau aku menawarkan bantuan dia jarang ada mau. Karena sudah ada yang bantu dia, lihat deh aku kasih nama samarannya aja Suami Orang, ya karena kayakanya dia udah jadi suaminya orang.... 
Bukan aku yang dia tunggu buat menawarkan bantuan, tapi istri dia itu. Entah sapose istri dia.
Mungkin memang nilai A bukan buat yang cuma berani memperhatikan dari belakang, dari jauh, kayak aku begini ya? 

Lagi lagi kubilang:

Sebenarnya kenapa ini jadi masalah ya? 
Buat apa aku mempermasalahkan ini ya?