Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Saturday, 27 April 2019

Terbius Wattpad!

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 

Belakangan ini aku sedang kecanduan baca Wattpad (WP). Awalnya karena aku dikirimin cerita bersambung (cerbung) sama ibuku, doi dapat dari temannya arisan. Karena temannya ibuku lama gitu kirimin bab terbarunya, iseng aku coba deh cari di Google. Eh dapat doooong ceritanya di Wattpad! Hwahahah. Yaudah aku baca aja terusannya di Wattpad.
Tapi ternyata di WP itupun ceritanya juga nggak lengkap semua ditulis, lompat-lompat. Usut punya usut ternyata cerbung itu sudah dibukukan. Sengaja gitu dibuat lompat-lompat babnya jadi orang bacanya penasaran lalu beli bukunya deh. Judul cerbung yang kubaca itu adalah: Menikah dengan Setan

Aku kira ceritanya bakal horor tapi ternyata nggak sama sekali malah penuh air mata! Aku nggak akan ceritakan sinopsisnya, coba dibaca saja di sini: Menikah dengan Setan oleh Isrina Sumia

Nah sejak itulah aku jadi coba baca-baca cerita lain di WP. Aku direkomendasikan oleh temanku yang judulnya: Progresnya Berapa Persen? Cerbung ini ditulis oleh Soraya Nasution. Nama akunnya WP-nya Levitt1806. Sepertinja dia ini suka sama Joseph Gordon Levitt makanya nama akunnya kaya gitu kwkwkw.

Setelah membaca MDS yang menguras air mata lalu baca cerita Soraya Nasution ini berasa kejungkir, karena bawaannya meseeeem terus dan gemessssss.  Ceritanya ucul banget, dalam hati berasa nyahutin "Ciyeeee", kalau ga "Sa aeeeee!"
Progresnya Berapa Persen? bercerita tentang April, karyawan sebuah konsultan pembangunan (bidang Teknik Sipil gitu deh) di Jakarta. April dan empat kawannya berada di bawah Manajer Teknik yang bernama Dewangga Bayuzena. Pak Dewangga, atau mereka suka singkat jadi Pakde, adalah manusia pintar, lumayan ganteng, nggak banyak omong, usia 33 tahun, dan (setahu mereka) hanya punya lima kemeja. Tiga di antaranya berwarna hitam, abu-abu, dan putih. Di hari Kamis Pakde akan memakai satu di antara warna tersebut, nah April dan kawan-kawannya itu di Rabunya akan bertaruh warna apa yang akan dipakai Kamis besok.

Nggak seru ya kalau tahu dari sini, mending baca aja lanjutannya langsung ya di sini: Progresnya Berapa Persen? oleh Soraya Nasution 

Anyway, aku nggak tahu kenapa membayangkan sosok Pakde ini adalah dosen aku di kampus dulu, namanya Pak Alwafi Pujirahardjo. Beliau dosen bangunan-bangunan air gitu. Pembawaannya juga mirip si Pakde ini masalahnya, pendiam dan pintar gitu. Duh jadi kangen (lah?)

Sampai saat ini Progresnya Berapa Persen? masih sampai Bab 30 dan udah tiga mingguan penulisnya nggak kunjung menerbitkan bab terbaru. Sungguh aku tuh sampai harus cari cerita lain biar move on dari kisah si April ini. Kalau engga gitu, tiap senggang dikit aku pasti baca-baca ulang ceritanya saking senengnya sama cerbung ini! Parah, candu banget.

Aku kan juga dulu kuliah Teknik Sipil ya jadinya baca cerbung ini tuh berasa seneng aja dengar istilah-istilah Sipil. Kata ganti orang pertama pun masih ada dipakai aku-kamu bahkan saya-kamu, nggak semuanya gue-lo meskipun latarnya di ambil di Jakarta.

"Sumpah deh kalau ada cerita yang sudut pandangnya orang pertama tapi pakainya gua gue gitu males banget, berasa kapitalis gitu!"
"Hah apa deh, Git..."


Karakter maupun latar setiap pemainnya pun nggak yang bermewah-mewah seperti cerita-cerita lain. Kadang kan ada yang tokoh utamanya itu anaknya konglomerat, rumahnya gede kaya lapangan bola, sakit perut doang ke KL. Lakinya yang suka sama dia hidupnya ya gitu, 11/12 sama dia. Yah... Aku percaya sih yang gitu beneran ada cuma kok kayak jauh kali sama kehidupan yang kujalani jadi berasa fiksi banget gitu hihi. 

Aku yang ngga cocok sama cerbung ini hanya judulnya aja. Ya kalau masih di WP gini yaudah bebas deh tapi harapanku kalau misal nantinya cerita ini jadi novel judulnya diganti aja dong bisa ga yaaaa.

Semoga Progresnya Berapa Persen? segera terbit bab terbarunya. Asli kangen beraaat sama April dan Pakde. 

***

Wednesday, 3 October 2012

The Worst Plan #1

The Worst Plan adalah cerpen yang berkisah tentang kemungkinan terburuk dari suatu kejadian. Namanya kemungkinan terburuk, ya kadar ketidakpastian terjadinya segitu-itulah. Oyo, nama-nama tokohnya fiksi, jadi jangan ge-er yak kalau namanya ada yang sama. Cheers. 

Episode Mengusir Nyamuk

Sore itu di kantin, Sobamie sedang duduk-duduk santai sendiri sambil menikmati mie gorengnya. Dia melihat sekelilingnya, mengamati orang sekitarnya satu-satu. Kemudian, matanya tertancap pada satu anak laki-laki yang tidak dikenalnya. Anak itu duduk bersama tiga teman perempuannya di Gazebo yang terletak di depan tempat Sobamie duduk sendiri. Rasa-rasanya anak itu pernah dia lihat dimana, tapi memang tidak dikenalnya. Anak laki-laki itu memakai kaos kaki hitam, lensa kontak hitam, kaos hitam, celana hitam, sepatu hitam, bahkan rambut hitam. WOW! Sungguh suram hidupnya, mungkin setiap hari waktunya dihabiskan ke pemakaman.
Tapi bukan kehitaman itu yang membuat Sobamie tidak bisa melepas pandangan dari anak laki-laki itu. Sesuatu di pundak sebelah kanan anak itulah yang membuat pandangannya tak bisa lepas. Sesuatu itu adalah.... nyamuk. Sobamie benci nyamuk. Sobamie sungguh benci melihat ada sesuatu apapun itu yang dikerubungi nyamuk. Dan sekarang nyamuk itu berpindah dari pundak ke kepala anak itu. 

Menit demi menit berlalu dan nyamuk itu masih berdiri tegak di kepala anak itu.....
Padahal dari tadi kepala anak itu bergerak ke kanan ke kiri sambil bicara dengan teman-temannya, tapi nyamuk itu cuma terbang sebentar lalu kembali lagi ke kepala anak itu. Sobamie jadi kesal sendiri dengan teman-teman anak laki-laki itu, kok tidak ada yang mau mengusirkan nyamuk itu. 

Tapi Sobamie juga kesal dengan dirinya sendiri, yang penakut. Yayay, Sobamie adalah tipe anak pemalu. Dia tidak memiliki banyak teman atau kenalan, karena memang untuk mengawali perkenalan saja dia malu, meskipun dalam keadaan terdesak. Seperti saat ini misalnya, sebetulnya dia mau-mau saja membasmi nyamuk itu demi anak laki-laki itu dan demi dirinya juga yang benci melihat nyamuk mengerubungi orang lain. Tapi kendalanya adalah dia tidak kenal anak laki-laki itu, dan dia malu untuk kenalan. Itu saja.

Sobamie memutar otak. Dia tidak akan pernah membiarkan satu nyamuk pun berkeliaran ketika dirinya sadar dan penuh tenaga seperti ini. Dia pun mengambil tindakan langsung sedetik setelah mendapat ide~

Sobamie berjalan menjauh dari mie-nya untuk mengambil kapak dari laboratorium mekanika tanah. Dia mengabaikan teman-temannya yang bertanya-tanya untuk apa Sobamie mengambil kapak begitu. Tanpa ragu dan malu dia menuju anak laki-laki itu dan menebaskan kapaknya sekali ke nyamuk di atas kepala anak itu.. CRASHHHH!! KENAAAA! Nyamuk itu mati seketika. Tapi ternyata, kepala anak itu pun terbacok setengahnya. Nampaknya anak laki-laki itu pun mati di tempat itu juga. Kantin itu pun gempar karena jeritan menyayat dari anak itu dan ketiga temannya. Darah muncrat ke segala arah.

Hanya saja tak ada yang bisa mengalihkan perhatian Sobamie lagi, dia begitu gembira nyamuk itu telah mati dan tak akan pernah mengganggu siapapun lagi. "Hem akhirnya nyamuk itu pergi juga! Hiyeeeey!" seru Sobamie girang.