Showing posts with label kampung naga. Show all posts
Showing posts with label kampung naga. Show all posts

Saturday, 24 September 2016

DAOP 2: Garut & Singaparna (2/2)

Terbangun pukul 6.30 pagi oleh telefon dari Bos Ibunda (subuhnya telat, jangan ditiru!-_-), yang pertama aku tatap adalah plafon kamar hotel. Kemudian aku baru ingat tentang semua bawaanku yang kemarin kehujanan. Kuperiksa semua barang-barang yang kusebar di seluruh kamar, alhamdulillah pada keriiiing yeah! Terima kasih AC yang sudah nyala semalaman 

Tapi di luar masih gerimis, sayangnya...
Jadi suram deh. Aku nggak sanggup membayangkan gerimis ini akan menjadi hujan besar seperti kemarin dan kami (aku dan Tama) harus kehujanan lagi, jadi sayur lagi.

Suasana jalan arah ke alun-alun Leles
Sambil menunggu gerimis mereda, aku dan Tama membereskan kamar masing-masing kemudian sarapan di ruang depan hotel. Menunya bihun, telor dadar, tempe mendhoan, dan kerupuk ambil sesuka hati. Not bad, standar makanan hotel. Kami sambil berdiskusi tentang kemungkinan-kemungkinan rencana perjalanan hari ini.

Gerimis terakhir makin lembut, kemudian mereda bersama-sama. Alhamdulillah! 

Kota Garut sudah cerah sekarang. Kami siap melanjutkan perjalanan! Destinasi pertama adalah Candi Cangkuang. Candi ini terletak di dekat alun-alun kota Garut. Untuk mencapat lokasi tersebut dari Hotel Suminar kami naik angkot terlebih dahulu arah terminal Garut, angkotnya warna biru telor asin rute Guntur-Leles yang balik dari Leles. Di Guntur ke arah alun-alun kami menaiki angkot yang sama, warna bitu telor asin rute Guntur-Leles. Nah sebelum kami naik angkot (gampang kok angkotnya, jadi nyantai aja) aku dan Tama makan lagi, beli kupat tahu. Xixixixix. Kata Tama seharusnya kami pas di Tasikmalaya menyempatkan beli kupat tahu, karena kupat tahu Tasikmalaya enak banget gila. Tetapi yah karena banyak sekali air hujan tumpah di Tasikmalaya kemarin maka kami baru bisa mencoba kupat tahu di Garut ini. Jeng jeng. Apakah rasanya sama enak seperti di Tasik?

Tahu Kupat made in Garut
Kata Tama rasanya jauh-jauh lebih enak yang di Tasik. Dia bahkan nggak menghabiskan makanannya (mubazir temannya syaithan, jangan ditiru kawan-kawan!). Menurutku sih skala 1 sampai 10 nilainya masih 7. Aku merasa kurang bro dengan rasa saus kacangnya, kaya ada tauconya gitu yah. Jadi kaya manisnya gitu yah. Nggak tau sih betul ada tauconya atau nggak, kata Tama sih enggak. Tapi toh aku menghabiskan juga itu kupat tahu. Hihihi. 

Perjalanan ke Leles melewati kota Garut yang begitu indah, dengan beberapa tikungan yang mengharuskan kita lentur mengikuti bentuk jalan. Sementara di sisi kanan adalah bedak-bedak toko berganti rumah kemudian berganti bedak-bedak toko lagi, di sisi kiri jalan kita akan melewati banyak bukit-bukit yang masih hijau. Ada juga bukit-bukit yang sudah dipotong entah untuk pekerjaan/proyek apa. Sekitar setengah jam saja perjalanannya, lalu kami turun dan membayar Rp5000,00 per orang di depan alun-alun. Aneh juga kataku alun-alun Leles ini, karena ada pagar bata bersambung besi di sekeliling alun-alunnya. Maksudku jadi kaya bukan alun-alun gitu deeeh kan ketutup pagarnya, kirain apa gitu. Aku aja ga sadar kalau aku udah sampai di alun-alun. Mihihihi. Atau jangan-jangan yang benar alun-alun itu yang berpagar, ya?

Sudah bro sama kudanya
Di sebelah alun-alun ada jalan masuk, itulah jalan menuju Candi Cangkuang. Saat itu terdapat dua delman lagi ngetem di pertigaan tersebut. Kita bisa pakai jasa ojek atau delman untuk mencapai Candi Cangkuang. Kemarin sih aku coba naik delman aja karena kayanya lebih seru aja yah ^__^ Biaya naik delman Rp20.000,00 (udah di tawar dari harga awal Rp25.000,00). Sebetulnya aku agak ragu menyebutnya delman, soalnya aku lupa bedanya sama andong, sado, dan dokar. Apa ya yang benar? Rodanya sih dua, yang narik kuda. Apa dong namanya yang benar? 

Waktu tempuh dari pertigaan jalan menuju Candi Cangkuang sekitar 17 menit. Melewati jalan yang tidak terlalu lebar, pemandangan di kanan kiri adalah sawah dengan latar gunung. Sejuk, bikin hati adem. Mata minus mungkin bisa berkurang, karena hijaunya sawah ini. Hihi.

Ini sih yang paling khas dari Candi Cangkuang
Memasuki gerbang masuk Candi Cangkuang, kita diharuskan membeli tiket seharga Rp3000,00. Tiket itu tidak boleh hilang karena masih digunakan saat nanti akan melewati pos jaga terdekat Candi Cangkuang. Kita tidak langsung bertemu dengan candinya saat memasuki gerbang ini, kita masih harus menyeberang suatu danau buatan dengan bambu rakit. Asik kan! Biaya menyeberang dengan bambu rakit ini Rp8000,00 bolak balik, jadi sekali jalan itu Rp4000,00. Oiya perlu diingat bahwa kalau kita menyeberang dengan bambu rakit nomor 16 misal, nah baliknya kita juga harus balik dengan bambu rakit nomor 16 itu.

Kami sampai di Candi Cangkuang sekitar pukul 10.00. Saat itu pengunjung cukup ramai, semuanya pada ngobrol ceria pakai bahasa sunda aku ga paham hihi. Aku dan Tama naik bambu rakit di posisi terdepan rakit. Begitu mendarat, aku dan Tama menyentuh daratan terlebih dahulu. Yes!

Para pedagang di sepanjang jalan masuk ke Candi Cangkuang dan Kampung Pulo
Jalan masuk ke Candi Cangkuang setelah 'pendaratan' dihiasi oleh pedagang buah tangan di sepanjang sisi kiriiiiiii lalu kanannnnnn jalan. Hati-hati buat yang suka belanja oleh-oleh karena banyak yang menarik di mata, saranku lebih baik belanjanya nanti saja pas sudah mau keluar candi biar nggak repot bawanya. :D
Kemudian sehabis bakul oleh-oleh, kita akan melewati Kampung Pulo.

The only one 

"Git Kampung Pulo teh naon?"

Kampung Pulo adalah kampung adat. Seperti suku Baduy gitu, mereka hingga saat ini masih hidup dengan mempertahankan tradisi turun temurun. Enam rumah plus satu mushola yang bentuknya tipikal, warna bangunan sama putih, berjajar menghadap arah yang sama di kanan dan di kiri jalan. Halaman depan rumah tersebut menggunakan paving berumput. Kita pasti akan lewat halaman tersebut karena satu-satunya jalan untuk menuju Candi Cangkuang....

Salah satu rumah di Kampung Pulo
Sebelumnya maafkanlah aku yang terlalu sibuk mengabadikan perjalananku ini, sampai lupa untuk belajar dan mencari informasi tentang tempat yang aku kunjungi khususnya Candi Cangkuang ini. Kamera aku memang baru, dan menurutku ini kamera paling keren di dunia (maaf kampuuung XD). Aku jadi jepret banyak-banyak, tanpa banyak tahu foto yang kuambil ini maknanya apa. Jadi maafkan aku lagi, kalau informasi yang kutulis setelah ini kuambil dari suatu sumber~


Candi Cangkuang
"Bukan sembarang kampung karena permukiman ini merupakan salah satu kampung adat yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Letaknya yang berada di tengah Danau Cangkuang dengan jumlah rumah yang hanya enam unit ditambah satu masjid, menyimpan cerita tersendiri yang melatari keberadaan permukiman mungil ini. Itulah Kampung Pulo yang berada di di Desa Cijakar, Kec. Leles Kab. Garut. Nama Kampung Pulo dilekatkan karena letaknya memang di sebuah pulau kecil di tengah Situ Cangkuang."

Belum selesai copy-paste-nya sodara-sodara...

"Kampung ini justru tampak "hidup" oleh beberapa pengunjung yang berwisata untuk menyaksikan keunikannya. Kabarnya, kehidupan di kampung ini baru akan berdetak menjelang magrib hingga selepas isya, karena saat itu para penghuninya sudah kembali pulang setelah bekerja di sawah dan ladang.
Semua bangunan bentuknya sama, yakni memanjang atau jolopong mengarah ke utara dan selatan. Rumah ketua adat terlihat berbeda dengan yang lain, karena atapnya memakai penutup atap ijuk. Rumah adat yang lain memakai genting sebagai penutup atapnya.

Keunikan kampung ini terletak pada jumlah rumahnya yang hanya enam unit. Dan, jumlah ini tidak boleh berubah, baik bertambah atau berkurang. Selain itu, warga kampung ini tidak boleh lebih dari enam kepala keluarga yang pemiliknya mengikuti garis keturunan pihak perempuan. Lalu bagaimana jika seorang anak warga kampung ini sudah dewasa dan berumah tangga? Sesuai ketentuan,  maka paling lambat dua minggu anak yang sudah berkeluarga harus meninggalkan kampung ini dan membangun rumah tangganya sendiri di luar kampung. Sebaliknya, bila ada warga kampung yang meninggal, maka sanak keluarga yang semula berada di luar, boleh masuk kembali menjadi warga kampung, setelah melalui seleksi yang dilakukan ketua adat."

(Sumber: wisatajabar.com)

Aku yakin ini info benar adanya, karena di Jalan-Jalan Men juga menyebutkan hal yang sama.

Jadi kapankah Candi Cangkuang ulang tahun?

Saat aku ke sana memang terlihat sepi rumah-rumahnya. Tetapi ada juga satu dua orang yang lagi di rumah. Ada yang lagi nonton televisi, ada juga nenek-nenek yang lagi nyantai di pintu. Rumahnya pertama di sebelah kanan kalau kita baru masuk Kampung Pulo. Usut punya usut ternyata si nenek ini keturunan Embah Dalem Arif Muhammad, pendiri Kampung Pulo.

Setelah cukup melihat-lihat Kampung Pulo, aku dan Tama lanjut ke Candi Cangkuang. Jalan lurus aja, lalu kami menemukan papan penunjuk jalan. Di depan papan penunjuk jalan itu ada pos, seorang penjaga dengan logat sunda akan meminta tiket yang kamu beli di gerbang depan.

Pandanus purcatus
Ada tanaman di dekat Candi Cangkuang yang namanya Cangkuang. Nama latinnya sih Pandanus purcatus. Mungkinkah itu asal nama Candi Cangkuang ini? Biasanya sih gitu ya. Sekali lagi, aku mohon maaf karena aku masih saja sibuk dengan kamera baruku sehingga nggak banyak menggali banyak sejarah tentang candi ini. Ngomong-ngomong kalau boleh kukasih info nggak penting kameraku Nikon Coolpix AW 130 warna hitam. Hahaha! Bukan promosi looooh~
Candi Cangkuang ini bangunannya bersebelahan dengan makam Embah Dalem Arif Muhammad. Di dalam candi tersebut ada arca Dewa Siwa, kecil gitu. Di depan makam, terdapat museum situs yang berisi tentang Al-Quran jaman dahulu kala, batu-batu prasasti, proses pemugaran candi, lukisan Arif Muhammad, dan buku tamu yang harus diisi. :-| Sebagai tamu yang baik coba isi aja ya, kan biar tahu gitu ini Candi sudah dikenal sampai Indonesia bagian mana! :D

Batu ini diletakkan di rak di dalam museum Candi Cangkuang
Berita lebih meyakinkan tentang Candi Cangkuang dapat dibaca pada artikel berikut: Kisah Candi Cangkuang yang Misterius di Garut.

Setelah sholat dhuhur dan membeli oleh-oleh , kami kembali ke alun-alun Leles menggunakan delman. Tarif delman untuk kembali masih sama, Rp20.000,00 ajah~ Di pertigaan jalan Leles kemudian kami mencari angkot arah terminal Guntur, angkot dengan warna sama seperti saat kami berangkat dari Guntur kemari. Tarifnya pun sama, Rp5000,00.

Oleh-oleh yang Cangkuang buanget 
Destinasi kami berikutnya adalah Kampung Naga. Tempat yang sebetulnya adalah tujuan utama(ku), namun ternyata justru menjadi destinasi terakhir perjalanan ini. Sampai di Guntur sekitar pukul 2 siang, tidak terlalu panas. Malah ada awan hitam di salah satu sisi langit, tetapi sepertinja bukan di atas langit Kampung Naga. Kami menaiki elf warna hitam tujuan Singaparna, elf yang pasti melewati Kampung Naga. Tarifnya Rp20.000,00 per orang, lama perjalanan sekitar satu hingga satu setengah jam. Elf hitam ini sempat ngetem di depan gerai Chocodot. Jangan lupa ya bagi para pelancong di Garut untuk beli coklat asli Garut - Indonesia Chocodot. Enak banget loh coklat iniiiii, udah gitu bungkusnya unik-unik. Varian rasanya juga lebih banyak saat ini. Gaslaaaah~

Di setengah perjalanan terakhir menuju Kampung Naga ternyata gerimis, stabil intensitasnya sampai kami diturunkan elf di Kampung Naga. Sepi di parkiran, kami tiba pukul 16.15. Parkiran hanya ada dua mobil, satunya seperti sudah mau pulang. Tama semangat banget langsung turun. Tapi aku sudah malas karena gerimis gini. Emangnya enak keliling Kampung Naga sambil kehujanan?-_-  Tama terlihat super-KZL.

Tugu Kujang sebelum masuk ke Kampung Naga
Kami berteduh di toko buah tangan depan jalan masuk. Aku berencana bakal sampai parkiran ini saja, lalu akan kembali lagi kapan-kapan kalau sempat. Hari sudah sore. Meski tanggung banget karena sudah sampai sini, tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai, tapi aku merasa perjalanan ini tidak akan tuntas sore ini kalaupun aku memutuskan (turun) ke Kampung Naga. Pasti nggak akan kuperoleh lengkap semua hal tentang Kampung Naga, terlalu singkat waktu yang bersisa.

Lalu seorang bapak (kayanya sih) penjaga parkir mendatangiku. Awalnya beliau berbahasa Sunda. Tetapi lama kelamaan pakai Bahasa Indonesia, mungkin karena aku nggak membalas Bahasa Sundanya dengan bahasa yang sama. Beliau bertanya asalku, kenapa aku tidak turun, dan lainnya. Percakapan permulaan saja. Kemudian sama seperti kata si Tama, tanggung sekali kalau tidak turun ke Kampung Naga saat ini juga, karena sudah di depan mata ini kok tempatnya. Beliau juga menawarkan untuk bareng turunnya, karena rumah beliau juga di Kampung Naga itu. Seorang bapak berbaju putih yang lebih tinggi dari yang pertama (sepertinya sih salah satu guide di Kampung Naga) juga menyayangkan aku yang tidak berniat turun lantaran hujan gerimis ini. Kata beliau jika memang kami langsung kembali ke Jakarta malam ini juga sebaiknya menunggu di bawah saja, di rumah Bapak Risman (bapak penjaga parkir) ini. Menunggu di parkiran gini berdua doang bakal kerasa lama. Sekaligus untukku, kata bapaknya, jika memang suatu hari nanti mau balik lagi ya nggak apa-apa. Tapi sekarang dilihat dulu sekilas tentang Kampung Naga, kalau menarik nanti tolong disiarkan ke kawan-kawannya di Jakarta dan ajak saja mereka semua ke sini. Hihihi, gitu ya pak?

Pak Risman menunjukkan jalan turun ke Kampung Naga
Aku sempat bertanya tentang tarif masuk ke Kampung Naga ini, karena sejak di gang masuk hingga saat ini aku tidak melihat pos penjual karcis atau semacamnya. "Adek. kampung wisata beda dengan kampung adat. Kampung Naga ini kampung adat. Kalau di kampung wisata, kita beli tiket lalu kita bebas melakukan apa saja. Tapi kalau di kampung adat kita tidak dipungut biaya, kita perbolehkan tamu masuk tapi masih menyesuaikan dengan aturan di kampung ini. Agar tahu peraturan apa saja yang berlaku, diperlukan seorang guide atau pemandu." Aku dan Tama mengangguk-ngangguk sotoy. Mendengar perkataan bapak berbaju putih ini akhirnya aku memutuskan ikut turun bersama Bapak Risman, bersama Tama tentunya. Tama sepertinja udah nggak KZL lagi, mukanya sama excited-nya denganku. Wow menunggu di salah satu rumah di Kampung Naga bro! Pastinya ini akan sangat menarik! 

Kami masuk ke Kampung Naga lewat jalan di sebelah Tugu Kujang. Jalannya menggunakan pasangan batu kali, terus turun. Saat itu karena gerimis maka harus sangat hati-hati, karena licin. Di sepanjang jalan Pak Risman banyak menyapa penduduk dengan Bahasa Sunda, aku ga ngerti doi bilang apa. Wkwkwkw. Beliau juga sempat bilang padaku bahwa nanti di bawah akan beliau akan jelaskan sebisanya tentang Kampung Naga, meski tidak bisa semua karena ada beberapa yang beliau tidak ketahui.

Coba tenggelamkan tangan pas ngasih makan ikan!
Kalau saja tidak mendung pasti sawah di sini akan lebih bercahaya. Perjalanan ke rumah Pak Risman kami melewati sawah yang begitu luassss dan hijaaauuuuuuu bangetttttt. Lalu ada sungai juga, yang ternyata sudah dibendung untuk keperluan irigasi. Kata Pak Risman bendung ini dibangun saat beliau masih kecil. Menaksir dari wajahnya, mungkin usia bendung ini 50 tahunan ada kali. Hati-hati bro saat lewatin sawah ini! Setelah memutari sawah kami menemukan tambak (empang) ikan dan kayu untuk menumbuk padi. Entah ikan apa itu, tetapi kita boleh berpartisipasi memberinya makanan. Tergantung di salah satu kolom kayu bangunan penumbuk padi adalah pakan ikan seharga Rp1000,00. Menumbuk padi itu adalah salah satu 'lahan kerja' warga Kampung Naga.

Perjalanan tidak lagi turun, tetapi naik-naik menuju rumah-rumah. Kata Pak Risman, total keseluruhan rumah di Kampung Naga ini 110. Tidak bisa bertambah meskipun boleh saja, karena keterbatasan lahan. Rumah-rumah bentuknya (harus) sama, dengan material bangunan juga (harus) sama: gedeg dan batu sebagai pondasi. Tidak ada yang membawa kendaraan sampai samping rumah masing-masing seperti di rumah pada umumnya, karena aksesnya saja nggak ada. Kamar mandi pun sama, nggak terlalu tertutup seperti kita punya. Tahu jamban nggak? Nah WC-nya seperti itu.
Tanah untuk rumah-rumah di Kampung Naga bertangga-tangga, sedangkan rumah Pak Risman berada di tangga teratas. Untuk mencapainya kami melewati tetangga-tetangga Pak Risman, beliau berhai-hai dengan mereka semua tentunya dengan Bahasa Sunda. Kami juga melewati gang-gang di antara rumah-rumah.

Mari menumbuk padi

"Pak kan rumahnya sama semua nih, pernah nggak keliru gitu masuk rumah?"
"Nggak pernah atuh, neng. Hahahha."

"Pak kan cuma ada 110 rumah. Saling kenal semua dong ya?"
"Iya neng."

"Pak emang yang bapak pemandu tadi rumahnya nggak di sini? Kok nggak ikut turun?"
"Nggak neng, dia mah naik ojek masih rumahnya. Karenda deket aja sama kuncen jadi pemandu. Tapi dia tahu banyak."

Di samping dua rumah 
Kami akhirnya sampai di rumah Pak Risman. Meski di luar gelap begitupun di dalam rumah, namun tidak ada lampu yang dinyalakan. Ternyata meskipun telefon genggam boleh digunakan tetapi ga ada listrik yang dipakai di rumah ini. Berlaku juga untuk rumah yang lain.

"Jadi kalau isi baterai hp gimana, Git? Charging?"
"Mereka naik ke parkiran tadi."

Jalan di antara dua rumah yang berhadapan di Kampung Naga
Masih gerimis di Kampung Naga. Pak Risman mengajak aku dan Tama masuk. Kami juga bertemu dengan istri beliau dan kedua anak laki-lakinya, satu masih SD satunya SMP. Istri Pak Risman, boleh disebut Bu Risman, juga asli Kampung Naga. Tetapi rumahnya dulunya agak di bawah-bawah gitu, rumah-rumah yang awal (ciyee cinta lokasi dong mereka yhaaa).
Di rumah yang nyaman ini kami dijamu dengan makanan yang mengingatkan aku sama nasi teknik hwahahha. Kangen kuliah euy! Jaman ospek~~ Menunya nasi-ambil-sendiri, tempe, tahu, telor rebus, ayam kampung, lalu garam. Aku masih ingat rasa ayamnya sampai sekarang, tapi masih nggak bisa menerka bumbu apa yang dipakai. Mungkin simple sekali.

Dapur rumah Pak Risman
"Pak ada larangan nggak tentang makanan di sini?"
"Ada."
"Apa pak?" (tertarik)
"Yang nggak enak." :D
"Hahahaha." Aya aya wae, pak!

Sebetulnya aku masih pengen nambah loh makan di situ. Tapi malu soalnya si Tama gak nambah -_-. Lagian ga enak juga masa tamu ngabisin makanan hihihi. Itu mah bukan bertamu tapi nyari gratisan ya kan!

Jam menunjukkan sudah setengah enam sore lewat dikit. Sambil menunggu makanan turun ke perut aku mendengarkan cerita Pak Risman. Beliau bercerita tentang anaknya yang paling besar, doi saat ini bekerja di daerah Fatmawati. Aku dan Tama manggut-manggut sambil bertanya ini itu.
Sebentar lagi datang waktu sholat Maghrib. Pak Risman menawari aku dan Tama mau sholat dimana, di rumah saja atau di masjidnya Kampung Naga. What? Boleh ya ternyata? Tentu saja aku pilih masjid. Kapan lagi dong bisa sholat di masjid Kampung Naga! Ini kesempatan~ 
Masjid terletak di sebelah ruang pertemuan semacam balai desa. Perjalanan menuju masjid melewati jalan yang berbeda dengan yang kami lewati saat naik. Masih dengan guyuran gerimis kami berjalan, berhati-hati melangkah agar tidak terpeleset. Kami juga sempat melewati satu rumah yang katanya Pak Risman tidak boleh difoto, kalau dilihat dari dekat doang bolehlah. Rumah tersebut sama bangunannya, hanya bedanya di sekelilingnya ada pagarnya. Pak Risman tidak menjelaskan lebih jauh tentang rumah tersebut.

"Ada orangnya tapi pak di dalamnya?"
"Iya ada."

Banyak sekali pertanyaanku yang belum terjawab tuntas. Bahkan kenapa namanya Kampung Naga saja aku belum dapat penjelasannya. Mungkin benar kata bapak berbaju putih di atas tadi, aku sekarang mungkin hanya akan sekilas tahu tentang Kampung Naga. Suatu hari nanti aku masih bisa bahkan harus kembali untuk menuntaskannya. Mungkin dengan ditemani pemandu, aku bisa banyak mencari tahu. Perjalanan ini belum selesai.

Masjis Kampung Naga yang keren punya!
Pukul 6 kurang 10 menit Pak Risman membunyikan bedug lalu masuk ke masjid. Tidak ada pengeras suara di masjid ini. Beberapa laki-laki berjalan memasuki masjid dari pintu sebelah selatan. Aku masuk dari pintu utara setelah terlebih dahulu berwudhu. Tempat wudhunya ngga ada atapnya, jadi sedikit kehujanan gitu. Airnya segar banget. Nggak ada keran untuk menghentikan airnya, jadi setelah selesai dibiarkan aja gitu terus (ko kaya di proyek aku yah?-_- Jadi inget kerjaan duh).

Masjid Kampung naga dibangun dengan kayu sebagai material utama. Kagum banget waktu masuk ke dalam, bagus gitu interiornya! Sederhana tapi... apa ya? Gitu deh. 
Sejauh mata memandang masjid ini terdiri atas dua ruangan. Pertama adalah semacam latar depan, kita pasti akan melewatinya setelah berwudhu. Kedua sebut saja ruangan utama, yaitu tempat untuk sholatnya. Tidak ada sekat antara laki-laki dan perempuan. Kedua ruangan dibatasi oleh jeruji yang tralis vertikal yang juga dari kayu. Aku suka deh sholat di situ, karena belum pernah aku solat di 'masjid panggung' begini. :D

Jeruji kayu sekat ruang depan dan ruang utama masjid
Ada tiga orang anak perempuan yang juga sholat berjamaah denganku. Dua diantaranya sepertinya masih SD dan yang satu seumuran anak SMP. Saat berjabat tangan kutanya namanya, Lia dijawabnya. Tetapi saat kutanya kelas berapa, ternyata doi ga sekolah. :( Sayang sekali pikirku, padahal kan sekolah boleh-boleh aja (seperti anaknya Pak Risman gitu). Ramah banget loh Lia ini, banyak senyumnya gitu. 

"Adek, kalau nikah di sini harus sesama orang sini apa gimana?"
"Nggak kok kak, bebas aja." (sambil senyum manis banget)

Selesai sholat maghrib aku dan Tama diantar Pak Risman kembali parkiran. Jalan yang kami lalui masih sama. Bedanya dengan sore tadi sekarang ini lebih gelap. Untung aku bawa headlamp! Hohoho. Kusarankan untuk yang jarang olahraga sebelum ke Kampung Naga agar mempersiapkan fisiknya karena naik tangganya cukup bikin capek. Kalaupun nggak bisa persiapkan fisik persiapkan mental aja deh, ahahaha.
Pak Risman mengantar aku dan Tama sampai tempat yang paling baik untuk menunggu angkutan yang membawa kami ke Singaparna (dari sana nanti naik bus yang ke Jakarta). Angkutan tersebut adalah elf warna hitam. Hujan-hujan kami bertiga jalan ke luar gapura Kampung Naga, kemudian masih berjalan sekitar 30 meter ke tempat yang lebih teduh. Sambil menunggu Pak Risman berpesan kepada kami, kalau ke sini lagi hubungi saja beliau ini. Hihihi. Asik deh bapak ini! 

Setelah shalat maghrib  
Sepuluh menit kemudian elf hitam yang kami tunggu datang. Hujan yang sudah bukan gerimis lagi menutupi pandangan kami akan kendaraan yang lewat, sehingga saat elf hitam lewat kami memberhentikannya agak mendadak sehingga elf itu pun berhenti juga mendadak banget. Hujan-hujan ngerem dadakan gitu ngeri juga-_-. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Risman (oiye aku kasih bapaknya Rp50.000,00 sebagai terima kasih karena sudah dijamu demikian mewah oleh keluarganya :D) kemudian segera mengambil tempat yang nyaman di dalam elf. Tarif dari Kampung Naga ke Singaparna adalah Rp5000,00. Dari Singaparna kami naik Bus Karunia menuju Jakarta (bisa Kampung Rambutan atau UKI) dengan tarif Rp70.000,00. Ini adalah bus yang sama seperti yang kami tumpangi kemarin ke terminal Guntur. Kondekturnya pun masih wangi, seperti kemarin. Hihiw.


Bus Karunia berangkat pertama pukul 8 malam. Kami turun di Cawang UKI sekitar pukul 1 dini hari. Kami kemudian naik taksi menuju kosan. Sepi banget kosan dini hari begini (yaiyalah-_-).
Yak dengan sampainya aku di kosan, maka selesailah juga perjalananku ke Tasikmalaya-Singaparna-Garut. Yeay! 


Nah jangan sampai ke Garut ga beli Chocodot ya! 
P & K 
1. Kemanapun kita berjalan-jalan, jangan lupa bawa jas hujan. Payung oke sih, tapi antisipasi aja kalau tiba-tiba harus ngojek. 
2. Bawa roti atau cemilan ternyata penting juga ya untuk ganjelan sementara di saat perut kelaparan! 
3. Selagi bisa naik angkot, pakailah angkot saat melancong ke kota-kota. Melebur dengan penduduk kota di satu kendaraan umum akan membuat kita mengerti adat dan budaya mereka. 
4. Jangan pernah menunda beli jajanan khas di suatu kota. Siapin perut-perut cadangan kalau perlu!
5. Meskipun prinsip 'let it flow' saat melancong itu asik juga, ga ada salahnya loh kita juga bikin rencana matang sebelum berangkat. :)
6. Terakhir buat si Tama, makasi berat lohhhh sudah ditemanin jalan-jalannya. Terima kasih juga sudah menjadi translator berjalan Bahasa Sunda wwkwkkwkw. Semoga nyaman di kosan barunya! 

Wednesday, 7 September 2016

DAOP 1: Tasikmalaya & Singaparna (1/2)

Muhun dan mual (semoga benar tulisannya). Dua kata dalam Bahasa Sunda yang sering banget kudengar Sabtu lalu saat aku melakukan perjalanan ke Tasikmalaya-Singaparna-Garut. Dua kata itu diucapkan mungkin seratur kali dalam sehari oleh teman seperjalananku, namanya bisa disebut Tama. Bisa juga disebut Tamma. Xixixix. 

Tujuanku ada tiga tempat yaitu Candi Cangkuang, Gunung Galunggung, dan Kampung Naga. Sudah direncanakan sejak lama perjalanan ini sebetulnya. Setelah melewati segala rintangan dan penundaan hari akhirnya kami dapat juga hari untuk eksekusi: Jumat 26 sampai dengan Senin 29 Agustus 2016. 

Jumat
Kami berdua gas dari rumah kos di Karet menggunakan grab car senilai Rp55.000,00 sekitar jam 10 malam menuju ke markas besar bus Prima Jasa di Cawang. Karena barengan dengan para pekerja yang pulang kantor (gak waras emang kota ini jam segitu masih perjalanan pulang, man!) jadi perjalanan Karet-Cawang ada kali tuh sejam atau sejam setengah. Tetapi saat sampai kami langsung dapat bus yang gak-pakai-lama langsung gas arah Tasikmalaya. Sebenernya target kami yang arah Garut, jadi bisa ke Cangkuang atau Kampung Naga dulu gitu. Namun kalau memang dapatnya yang ke Tasik begini, berarti tujuan pertama adalah Gunung Galunggung dulu. Baiklah~ 

Tarif bus Jakarta ke Tasikmalaya per orang Rp60.000,00.

"Mahal nggak segitu, Git?"
"Nggak sih, karena tarif rata-rata bus antar kota ya memang segitu dengan fasilitas yang juga segitunya."

Fasilitas bus ini sama seperti bus pada umumnya. Terdiri atas dua sisi tempat duduk, dengan sisi kanannya ada tiga lajur tempat duduk dan di sisi kiri dua. Tempat duduknya empuk gitu, bisa diatur kalau mau lebih landai. AC juga lancar, bagiku malah kelewat lancar.
Tetapi saat bus baru berjalan satu jam kami dapat "fasilitas tambahan" yaitu orang yang (kayanya) tepat duduk di belakang kami muntah. Dua kali dua mengeluarkan cairan dari mulutnya. Bau si enggak yah, cuma air muntahnya ngalir ke depan ke arahku, jadi kaki aku nggak bisa napak hhhhhh jijaaaaay. Capek deh ngegantungin kaki gitu ah~ 


Sabtu

Pemberhentian terakhir bus Prima Jasa

Perjalanan berangkat ke Tasikmalaya ini diiringi dengan rasa kantuk yang nyaman, aku jadi bisa enak tidur di busnya. Tidak usah menunggu waktu berganti, dia sudah jalan sendiri. 

Sekitar pukul lima lebih seperempat pagi kami sampai di tempat berkumpulnya para bus Prima Jasa. Menyenangkan bisa turun dan menyentuh udara hangat, setelah berjam-jam dingin kering karena AC. Kami langsung mencari makan sarapan yang kepagian. Tepat di seberang pintu masuk mabes Prima Jasa ada penjual bubur ayam. 

Semangkuk bubur ayam dibanderol Rp7000,00. Rasanya enak, ada taburan mericanya juga. Tapi untuk lauk hanya ada suwiran ayam, nggak seperti bubur ayam di Jakarta yang bisa ditambahkan sate jeroan. Bagian yang aku paling suka dari bubur ayam Tasikmalaya ini adalah sambal ijonya. Parah, enak banget to-the-Saturnus-and-back! Namun rasa enak sambal ijo bubur ini begitu cepat hilang karena aku langsung minum teh kesukaanku: teh sunda. Atau apapunlah nama sebenarnya. Uaaaahhhh~~ teh yang selalu kunantikan. Teh yang membuat aku suka banget kalau makan di Jawa Barat, karena rasanya terasa begitu tawar dengan warna coklat pudar yang bikin teduh mata. Pokoknya uaahhhhhhh ena ena~~ 

Itadakimasu!
Cukup mengenyangkan buburnya, meskipun berdasarkan pengalamanku bubur mah kenyangnya buat sejam ke depan doang. Wkwkwkw. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Terminal Indihiang untuk mencari angkutan kota (angkot) warna hijau yang akan membawa kami ke Gunung Galunggung langsung tanpa diundi! Sepertinja angkot ini nggak banyak yang beroperasi, ini aja yang ngetem satu doang.

Angkot hijau jurusan Indihiang - Galunggung
Angkot hijau jalan setelah sepuluh menit ngumpulin penumpang alias ngetem di Indihiang. Di dalam angkot kami bertemu tiga pemuda (ciaelah!) Jakarta yang juga sama tujuannya, ke Gunung Galunggung. Penumpang yang sama-sama kami naik dari Indihiang tidak terlalu banyak. Tetapi di perjalanan para penumpang silih berganti naik dan turun, hanya kami berlima yang naik sampai tujuan akhir Gunung Galunggung. Penumpangnya banyak rupa, ada petani yang bawa beras dua karung, pedagang buah yang bawa keranjang buah doang, dan paling banyak itu anak SD yang pakai seragam pramuka. Ucul banget liatin anak-anak SD ini. Wajahnya masih lugu banget, pada masih segar karena bedakan. Ada yang ingusan jadi gelembung ingusnya membesar mengecil seirama dengan tarikan-buangan nafasnya, ada yang kembar, ada yang berdiri di ambang pintu kaya kernet, ada juga yang pakai kaca mata. Xixixixixi.

Kesamaan mereka para anak SD ini adalah ketika diajak ngobrol mereka ga senyum atau menjawab sepatah huruf atau tanda baca pun. -__-" Mungkin ajaran di sekolah mereka kalau diajak bicara orang asing nggak boleh jawab, entahlah. 

Berdesakan di angkot bersama para murid SD ucul-ucul wkwkwk
Perjalanan dengan angkot hijau melewati jalan-jalan sempit kota Tasikmalaya terasa singkat, mungkin hanya 45 sampai 60 menit. Aku, Tama, dan ketiga anak Jakarta diturunkan tepat di depan gerbang masuk Gunung Galunggung. Ongkos dari Indihiang sampai Galunggung adalah Rp12.500,00.

Tiket masuk gerbang untuk masing-masing manusia yang berjiwa adalah Rp6500,00 kalau sudah siang. Tapi karena kami masih pagi udah nyampe dikasih Rp5000,00 aja. Hihi asik. Dua puluh meter dari gerbang jalan sudah bercabang, yang ke kiri naik ke kawah Gunung Galunggung dan yang ke kanan datar ke pemandian Cipanas dan air terjun Galunggung. Aku dan Tama pilih ke kiri, yang nanjak dulu. Untuk perjalanan ke kawah Galunggung bisa ditempuh dengan jalan kaki atau bersama abang ojek kalau tidak salah Rp15.000,00. Kata para abang sih ke sana sekitar 3 km. Entahlah benar atau nggak, kayanya sih lebih lah~

Sejak kami memilih jalan ke kawah Galunggung jalananan terus menanjak. Hanya ada beberapa meter yang cukup datar. Tetapi jalannya rindang dan sangat sejuk, seperti gambar-gambar yang selama ini cuma bisa kulihat di desktop windows. Xixixix. Warna daunnya hijau segar. Di pertengahan jalan kami bertemu dengan entah lutung atau kera, aku kurang tahu bedanya. Sekedar bergantungan di pohon saja mereka, membuat ranting menggayut-gayut.

Windows desktop :D
Sepanjang jalan menuju kawah, akan ditemukan dua pos. Pos pertama berupa jalan datar yang ada dua warung. Setelah pos itu akan ada jalan bercabang lagi, yang ke kiri ke sumber air (nggak kesana) dan yang ke kanan ke arah kawah. Pos kedua berupa gazebo kayu saja, bersebelahan dengan tempat parkir (sebut saja parkiran bawah). Di pos kedua itu pun jalan juga bercabang, kita tinggal pilih. Kalau lewat kanan aksesnya adalah pasir bertangga-tangga yang ditahan bambu, kemudian agak di atas adalah pasangan batu kali sampai parkiran atas. Kalau lewat kiri jalannya seperti di awal, sama menanjaknya, sama beraspalnya. Namun kedua jalan itu akan mengantarkan ke tempat yang sama yaitu warung-warung di area parkiran atas.


Pos kedua
Namun sayangnya seperti kebanyakan tempat wisata, ada coretan dari manusia-manusia bertangan jahil. Di tiang listrik, di atas perkerasan jalan, maupun di pasangan batu yang bisa dibuat duduk. Aku sungguh nggak ngerti kenapa mereka nulis-nulis nama di sini. Dikira lagi UAS apa -_-"

Jalan setelah pos kedua pasir yang ditangga-tanggakan 
Perutku dan Tama kompakan kelaparan sesampainya di parkiran atas. Bubur ayam tadi rasanya sudah setahun yang lalu kami makan. Sekarang adalah saatnya makan gorengan di ketinggian. Yehah~
Tama yang lama tinggal di Bandung jadi banyak ngerti Bahasa Sunda santai ngajak ngobrol ibu pemilik warung. Aku yang lama di Malang nggak paham mereka ngomong apa. Yang aku pahami cuma gorengan tahunya enak banget. Sempurna rasanya dengan cabe ijo. Tahu tersebut per bijinya seharga Rp1000,00. Selain tahu ada juga lontong dan pisang goreng warna orange, dengan harga yang sama Rp1000,00. Sebagai bekal untuk ke kawah kami juga membeli dua botol air mineral 600 ml seharga Rp5000,00.

Dari warung menuju dataran yang lebih tinggi kami harus menaiki 620 anak tangga. Ada juga jalur tanpa tangga, naiknya di sebelah musholla. Tetapi kami pilih tangga karena 'kami pikir' dengan tangga bakal lebih ringan. Ternyata nggak juga loh. Hihihi.

Saat naik tangga inilah pemandangan di balik punggung kita

Lelah dan peluh pastinja kerasa banget saat naik tangga. Dua kali kami berhenti untuk beristirahat, sambil menengok ke belakang karena pemandangannya adalah kota Tasikmalaya yang dipayungi awan tipis. Ketika sudah sampai di atas senang bangeettt. Apalagi saat memandang ke kawah, semua lelah dan peluh terlupakan. Hijaunya kawah, mungkin karena gangga, tenang tak beriak. Sepuluh menit saja kami menikmati kawah dari atas, selanjutnya kami memutuskan untuk turun ke kawahnya.

Kawah Galunggung super keren
Jalan untuk turun pun serba bercabang. Saran aku mah kalau masih muda pilih aja yang cepat, yang curam. Jatuh dikit gapapa lah, kepleset sekali dua kali okelah.

Pleaseeeee don't leave anything but footprint and don't take anything but photograph
Jalur untuk kembali ke dataran di atas bisa dengan melalui jalan yang sama. Tapi supaya lebih seru, aku pakai jalur yang berbeda. Saat turun jalur yang kutempuh adalah tanah-tanah yang sudah dipadatkan, beberapa sudah ditangga-tanggakan. Saat naik, si Tama memilihkan jalur curam berpasir, mungkin kemiringannya ada kali tuh 25˚. Sekitar 1 km jalur itu kami tempuh, kemudian pasirnya sudah jadi tanah biasa dan perlahan sedikit melandai. Sedikit aja tapi. :p

Jangan lupa main di sini pas turun ke kawah karena asli segar banget mas dab!
Destinasi selanjutnya tentu saja adalah air terjun Galunggung. Perjalanan untuk turun ke jalan yang bercabang ke air terjun sekitar 1 jam. Kudu sabar dan tawakal sama seperti saat naiknya, karena jalur yang terus turun juga menambah beban untuk kaki kita jadinya bikin capek juga.
Dari percabangan awal masuk jalan kaki sekitar lima belas menit menuju kawasan air terjun Galunggung dan pemandian air panas.

Sama seperti menuju kawah, ada lahan parkir dan penjual makanan berjajar sebelum kita memasuki kawasan pemandian air panas. Di sini banyak juga para bakul buah tangan. Kalau di dekat kawah hanya ada satu bakul yang menjual kaos buah tangan dan gantungan kunci, di sini berjajar penjual kaos yang Galunggung banget. Harganya rata-rata sama, motifnya pun rata-rata sama juga.

Bermacam kaos buah tangan Galunggung
Perjalanan dari parkiran menuju pemandian kita akan melewati warung-warung lagi yang berjajar di kanan dan kiri, kebanyakan menjual makanan. Makanan yang paling khas yang dijual ada sayur yang disiram bumbu pecel. Tetapi komposisi sayurannya nggak seperti yang kujumpai di Kota Malang-ku. Sayur yang familiar bagiku adalah kecambah, selada air, dan kangkung. Namun di sini ada tambahan labu siam, sayur gendot, dan rombeh atau bunga kecombrang. Sayur yang kusebut terakhir adalah macam sayur yang menurutku menjadikan pecel di Galunggung ini beda dengan pecel lain, karena rasanya seperti kencur. Mulanya kukira bumbu pecel ini ada kencurnya. Tapi setelah dirasakan lebih jauh ternyata asalnya dari sayur ini! Wow cool. Seporsi pecel harganya Rp5000,00 tanpa nasi. Kalau mau nasi tinggal minta aja sama ibu penjualnya. Enak banget pecelnya, aku sukak! Kalau ke Galunggung jangan nggak beli ini deh pokoknya!

Para sayur yang mengorbankan dirinya untuk disiram pecel
Penemuanku tentang makanan bukan hanya pecel ini, tetapi juga pisang hurang dalam wujud masih buah. Itu loh, yang warnanya oranye (ada gorengannya di warung arah kawah). Aku membeli satu buah seharga Rp3000,00. Ternyata rasanya agak beda sama pisang yang kumakan biasanya. Ada asamnya, juga lebih lembek. Ukurannya pun lebih gendut-gendut daripada pisang biasanya.

Pisang hurang bergelantungan~
"Cuma ada di Tasikmalaya atau gimana tuh, Git?"
"Entahlah, Squidward....."

HTM pemandian air panas dan air terjun jadi satu, yaitu Rp10.000,00. Aku yang tidak membawa celana ganti (bego, jangan ditiru) gak bisa ikutan berendam di pemandian. Padahal sepertinya nyaman banget berendam di situ, kaya lagi di ofuro di manga-manga. Kata orang pun pegal-pegal bisa hilang. Akhirnya aku cuma duduk-duduk santai di gazebo sekitar pemandian, menjagakan barang-barang si Tama. Sempat ketiduran sebentar...
Satu hal yang tidak bisa dilakukan di pemandian ini adalah pipis dengan nyaman, khususnya untuk perempuan kali ya. Kamar mandi kurang terawat, sebut saja kotor. Lampu kaga ada (untung bawa headlamp) semua, kalau pun terang kamar mandinya itu karena pintunya berlubang. Gawat di kita juga kan kalau pipis dengan pintu berlubang ya -_-. Akhirnya nemu satu yang pintunya bener, meskipun kaga bisa dikunci (zzz).

Salah satu papan peringatan di area pemandian (kiri) dan tampak pemandian di sisi hulu sumber (kanan)


"Nggak semua orang yang ke Galunggung bakal ke air terjun Galunggung tahu, Git. Hanya yang dapet ilham aja!" Tama bersabda. 

Ternyata dari pemandian kita bisa berjalan ke arah hulu sungai untuk mencapai air terjun Galunggung. Juga kita tidak harus menapak di batu di tepi sungainya untuk berjalan, karena dasar sungai yang merupakan sumber pemandian itu cukup cetek alias dangkal. Paling tinggi hanya setinggi lutut orang dewasa. Saranku sih pakai aja jalur ini, karena enak banget loh kaki terendam air sungai begini. Hihihi asik.

Papan penanda pertama akan ada di sebelah kanan dengan panah ke arah kiri bertuliskan "AIR TERJUN 250 M". Kalau kita ikuti papan tersebut, jalur selanjutnya bukan lagi sungai tetapi sudah memasuki hutan teduh. Tentunya jalannya sudah ada yang dirapikan. Tidak usah khawatir akan nyasar karena papan penanda terus ada hingga kita sampai di air terjunnya.

Air terjun Galunggung
Kalau melihat di gambar kaos yang dijual sebagai buah tangan sepertinya dulu air terjun ini lebih tinggi. Mungkin disitu ada patahan aktif atau apa, jadi nggak tinggi lagi terjunnnya (sotoy).
Air terjun Galunggung yang tersembunyi, dengan suara yang sedikit teredam entah oleh apa...
Aku takjub melihat air terjun ini, nggak menyangka lokasinya yang di sebelah kiri, nggak segaris lurus dengan sungainya. Surprise gitu loh! Sendu banget suara airnya, rasanya pingin berlama-lama~

Tetapi si Tama hanya membiarkan aku bengong lihatin air terjun selama semenit saja. Kata doi udah mendung mau hujan, selain itu aura di sana negatif. Hahaha-___-" Saat itu di sana memang sepi banget sih, hanya ada kami berdua. Tapi sepinya bukan yang singup gitu kok~

Dedengkotnya Chatime
Kembali ke gerbang depan kami menempuh jalur yang sama, menelusuri sungai kemudian warung-warung penjual pecel. Kami sempat berhenti untuk beli pop ice rasa permen karet. Aku yang nggak suka minuman berwarna, jadi pingin lantaran teringat masa-masa sekolah pas ikut bimbel. Minuman ini kan kayanya hits banget saat itu! Bodo amat dengan pemanis buatannya. Mihihihihi.

Aku baru buka pisang hurang saat balik dari pemandian ke gerbang depan
Namun perjalanan pulang nggak semulus berangkatnya. Kami sampai di gerbang depan sekitar pukul 16.00. Menunggu lima belas menit nggak kunjung lewat juga angkot hijau yang bisa membawa kami kembali ke Terminal Indihiang. Usut punya usut, kami baru tahu dari mamang-mamang para penjaga gerbang bahwa angkot tersebut cuma sampai jam 3 sore beroperasinya (si Tama tadi ditanya pede banget sih jawab katanya "sampe jam 12 malam juga ada." -___-, jadilah kami super nyantai main di Galunggungnya).
Aku sedih banget ketinggalan angkot begini. Hujan pula! Emmmmm~~ Salah seorang mamang sih menawarkan ojek sampai Indihiang, berdua Rp50.000,00 dengan jas hujan. Tapi kubilang ke Tama, aku masih optimis itu angkot bakal lewat! "Kita tunggu sampe jam lima deh, Tam."

Tentu saja keoptimisanku adalah sebuah bentuk ketololan manusia yang nggak mau menerima kenyataan bahwa angkot hijau sudah nggak lewat lagi. Ditambah hujan yang makin deras, makin nggak jelas kepulangan kami ini seperti apa. Tama kembali menanyakan ke Mamang, apakah penawaran tentang ojeknya tadi masih berlaku? Alhamdulillah Allah masih baik banget penawarannya masih berlaku, tetapi ojeknya mau jalan kalau hujannya udah redaan. Baiklah. Kami pun sekarang berganti menunggu hujan reda, bukan lagi angkot hijau.

Kacang kedelai pedas paling enak se Tasikmalaya buat hiburan nunggu hujan reda 
Hujan sempat mengecil sedikit sekitar pukul setengah enam, maka di saat itulah kami bilang ke mamang: "Yak sekarang aja mang ke Indihiang, gas!" Meskipun tidak reda betul, tapi perkiraan kami di Indihiang bisa jadi kering. Kan juga pakai jas hujan. Bisalah~

Bagian teraneh di episode naik ojek ini adalah ternyata ojek yang dibilang berdua Rp50.000,00 dengan jas hujan adalah maksudnya satu motor berdua. Oh, bertiga sama abang ojeknya. Gile. Motornya motor cowo jaman dulu gitu deh. Asli kaget deh, jadi aku kudu berdempetan dengan mereka para lelaki ini di motor itu begitu? -_- Tapi cepat-cepat juga aku naik ke motor, keburu hujan lagi. Masalah jas hujan ini juga ternyata jas hujan kelelawar abang ojeknya kan ukurannya segitu-gitu aja, cuma ada satu pula. Mungkin doi kira bakal bisa menaungi aku dan Tama yang dibonceng ini, tapi ya nggak sama sekali. -_-" Yah ini mah jas hujannya buat mamang ojeknya doang zzzz. Eh udah gitu ga pake helm lagi. -_-" Rasanya insecure deh. Mana kecepatan dan teknik menyetirnya doi udah kaya pembalap MotoGP gitu. Pasrah deh.

Aku duduk di tempat paling belakang :-|
Sepertiga perjalanan pertama kami masih dinauingi gerimis. Sepertiga yang kedua kering banget. Aku dan Tama yakin di Indihiang bakal kering. Tetapi kami salah besar. Justru di sepertiga perjalanan terakhir ini hujan besar, lebih lebat dari yang di Gunung Galunggung. Kelebatan ini stabil hingga kami tiba di Indihiang, sekitar jam-jam maghrib. Kami merasa jadi sangat lembek dan layu terus menerus diterpa air hujan. 

Ke Indihiang ini kami bertujuan mencari kendaraan yang akan membawa kami ke Garut, mendekati destinasi kami selanjutnya yaitu Kampung Naga dan Candi Cangkuang. Kami berencana menginap di sana saja. Sesampai di Indihiang kami masih harus berjalan 50 meter lagi untuk mencari elf yang
ke Singaparna. Kata orang-orang yang kami tanya bus yang dari Indihiang ke Garut sudah nggak ada jam malam segini, jadi lebih baik kami ke Singaparna dulu karena di sana ada bus Singaparna - Jakarta. Bus tersebut bakal lewat terminalnya Garut yaitu Terminal Guntur, tempat yang gampang untuk nyari angkot keliling Garut. Yeahhhh!

Elf ke Singaparna ini gelap dan ada kecoanya. Aku dan Tama berjuang menggantungkan kaki kami agar tidak dijadikan lintasan permainan kecoa. Bukan apa ye, geli aja gitu dilewatin kecoa kan. -_-" Elf ini mengantar kami sampai Singaparna seharga Rp20.000,00 masing-masing penumpang. Waktu tempuh kalau tidak salah satu jam kurang dikit. Dikit aja. 

Meskipun melembek karena hujan, aku masih sangat semangat untuk menyongsong Garut. Tetapi Tama yang juga melembek sepertinja udah berantakan banget mood-nya. Apalagi makanan terakhir yang kami telan hanyalah gorengan tahu dan kacang kedelai pedas saat menunggu hujan di gerbang Gunung Galunggung tadi, doi udah berpikiran tentang masuk angin aja. Tama pun mewanti-wanti agar di Garut nanti kami nginapnya di Favehotel (by Aston) aja. Aku yang sebenarnya nggak setuju, pengennya di wisma biasa aja biar murah, tapi melihat doi basah gitu jadi ga enak hati untuk menolak. Xixixix.

Bus Singaparna-Jakarta yang kami tumpangi ini namanya Karunia apa gitu, berangkat paling awal di jam delapan malam. Kondekturnya wangi loh, info aja. Hahaha. Di dalam bus menuju Garut kami berdua menggigil kedinginan, tahulah AC di bus kan dingin banget. Sambil makan ayam untuk mengisi perut (wajib diketahui: kalau habis kehujanan, perut jangan sampai nggak kemasukan makanan karena rawan masuk angin!) aku  melihat keluar jendela, jemariku menyentuh kacanya. Gelap, tapi ada sekelebat pandangan pinggir jalan. Di luar masih hujan. Baiklah. Setidaknya kami sudah basah, nggak akan ada yang lebih buruk dari kondisi sekarang kecuali ada godzilla lewat ngiler diatasku sampai badanku lengket menjijikkan.

Sang penyelamat
Ayam goreng saja ternyata cuma jadi iklan lewat di perutku. Sesampainya di Terminal Guntur aku dan Tama langsung beli nasi goreng untuk makan yang sebenar-benarnya. Meskipun kembali berbasah-basah tapi akhinya kami keluar dari ruangan AC, setengah jam di dalam sana gigi kami bergemeletuk.
Seporsi nasi goreng kurang asin membuatku bertenaga kembali. Entah Tama, doi makannya ga habis. Katanya sih kebanyakan.

Sebelum berangkat, jauh hari kami sudah mencari di internet kira-kira penginapan macam apa yang bisa kami sewa untuk bermalam. Salah satunya adalah Favehotel di Cimanuk, ke situlah kami langsung menuju begitu selesai makan nasi goreng. Kami menggunakan taksi dengan argo. Abang taksi awalnya menawarkan tanpa argo untuk nyari hotel Rp40.000,00. Tapi kata doi harga segitu tidak paten apabila dia rasa jaraknya tempuhnya sudah lebih dari Rp40.000,00. Hemmm yaelah bang plislah masa ya tarif pake perasaan! 
Sampai di Favehotel ternyata kamar kosong sudah nggak ada. Pak satpam Favehotel mengarahkan kami ke Ramayana Hotel atau Suminar Hotel, dua hotel terdekat dari situ. Pak sopir taksi langsung gas membawa kami ke Suminar Hotel terlebih dahulu. Ternyata di sana ada dua kamar kosong, tapi kelasnya yang Deluxe! Harga kamar semalam Rp425.000,00. Tama mengiyakan bermalam di sana, jadilah kami memilih hotel tersebut. Tarif taksi sampai Hotel Suminar ini Rp50.500,00.

Satu kamar berisi dua tempat tidur yang masing-masingnya ukuran double. Aku langsung menyalakan AC dan menebar semua isi tasku di atas kasur. Mereka sama lemah tak berdaya sepertiku karena kehujanan sejak turun dari Galunggung. Tasku kugantung di pintu lemari. Kalau dilihat-lihat kamar ini jadi seperti pesawat yang habis meledak kena kipas angin raksasa. 
Setelah mandi aku langsung merebahkan diri, bersiap untuk tidur. Di luar masih terdengar suara hujan. Akhirnya datang juga saat seperti ini hari ini, hanya mendengarkan suara hujan karena aku sudah berlindung di dalam ruangan, nggak di luar kehujanan seperti tadi sore. Nyaman banget ketemu kasur. Lebih dari itu, aku senang bisa kembali kering.



Bersambung ke DAOP 2: Garut & Singaparna (2/2)


Keterangan
DAOP: daerah operasi